Skip to main content

Cerpen - Kisah Aisya

Aisya akhirnya sampai di tempat yang ditujunya, meski sebelumnya sempat terhambat gara-gara pak polisi nyari gara-gara. Hanya karena nggak nyalain lampu di siang hari, motor yang dikendarai Aisya disuruh menepi. Untung saja hanya kesalahan kecil itu yang menjadi sebabnya, surat-surat lain yang diminta pak polisi semuanya lengkap, jadi pak polisinya kali ini gagal dapetin upeti. Hohoho.

Tempat parkir motor masih sepi. Maklum lah masih pagi, masih pukul 10.30 ketika Aisya tiba di pusat perbelanjaan itu. Setelah mencari tempat yang cocok untuk menempatkan kendaraan,di bawah pohon yang cukup rindang, Aisya segera berlalu dari tempat itu dan buru-buru melangkah ke dalam gedung. Ali, orang yang ingin ditemuinya sudah lama menunggu, Aisya nggak enak terlalu lama membuat Ali menunggunya.

“Assalamu alaikum, Kak Ali” Sapa Aisya ketika menemukan sosok yang dicarinya dalam toko buku, tepat di depan lemari buku Psikologi seperti yang dijanjikan.

“Wa alaikum salam, eh..ADJ” jawab orang itu

“ADJ??” Aisya bingung

“Akhirnya datang juga….apa kabar, De’?” Tanya Ali sambil tersenyum. Senyum pertama yang dilihat Aisya dari Ali. Hmmmn, manis juga tapi nggak sampai merobek hatiku, batin Aisya.

“Baik, Alhamdulillah. Kakak sudah lama ya nunggunya..Maaf yah !” Aisya agak malu, ini adalah pertemuan pertamanya dengan Ali setelah sebelumnya hanya berkomunikasi lewat dunia maya.

Kurang lebih selama setahun, Aisya mengenal Ali dari salah satu situs pertemanan di internet. Aisya setiap hari selalu chat dengan Ali, menjadi tong penampung segala keluh kesahnya. Di situlah Aisya menjadi akrab dengan Ali, Aisya merasa telah mengenal Ali begitu lama dan sudah mengetahui segalanya tentang Ali, begitu juga sebaliknya.

Akhirnya kali ini tidak hanya sekedar lewat chat tapi bisa bertemu langsung dengan Ali, membuat Aisya senang dan tidak mau membuat teman onlinenya itu kecewa karena dia datang terlambat.

Ali sudah seperti kakak bagi Aisya, orangnya dewasa dan selalu mengajari Aisya sesuatu yang bermanfaat. Ketika Aisya ada masalah, Ali selalu bisa memberikan sedikit solusi atau paling tidak menenangkan hati Aisya dengan gurauan2nya. Ali selalu mengingatkan Aisya untuk tidak terlambat shalat dan segala kegiatan Aisya selalu ditanyakannya. Ali juga sering berbagi informasi dan ilmu yang mungkin bisa bermanfaat untuk Aisya. Aisya merasa mendapat seorang yang betul-betul menjadi Kakaknya yang selama ini tidak dia miliki, teman diskusi dan orang yang bisa diejek juga kadang-kadang.

“Iya, nggak apa De’...sampai kapanpun akan aku tunggu, walau hujan badai sekalipun, toh hujannya di luar” 

“Huuuuh, Jayus. Kak Ali mulai neh jayusnya” Aisya tersenyum. Biasanya senyum Aisya hanya digambarkan dalam bentuk emoticon di kotak chat. ^_^

“De, mau gak nikah sama kakak?”

Bagai ada sengatan listrik menyerang jantung Aisya, Aisya tiba-tiba jadi salah tingkah.. Masih gak percaya dengan kata2 Ali barusan. Aisya menunduk perlahan dengan ujung bibirnya yang bergetar. Pipinya memerah.

“Kakak jangan bercanda ah, gak baik bercanda, Masih pagi-pagi gini.”
“Kakak gak bohong de…,sebenarnya sudah lama kakak memendam perasaan ini, tapi kakak perlu meyakinkan diri dulu, Ais tahu kan Kakak sayang ma Ade?”

Aisya terpaku menatap lantai ubin di toko itu, kakinya seakan lemah, senang antara bingung meluap menjadi satu dalam haru. Akhirnya kaki Aisya mulai kokoh lagi, ia mengangkat kepalanya lalu mengajukan pertanyaan pada Ali.

“Apa kakak sudah memikirkan tentang baik buruknya bila menikah dengan Aisya?”

“De, Kakak bukan sebulan dua bulan mengenal Ais, tapi hampir satu tahun de, tidak cukupkah waktu segitu untuk kita saling mengenal? Kakak merasa sudah cukup tahu siapa Ais, Apa Ais meragukan kesungguhan kakak?”

“Tidak kak, Ais juga merasa cukup mengenal kakak, kakak adalah orang yang mengerti tentang Ais, kakak yang selalu bisa menyembuhkan luka di hati Ais, kakaklah yang memberi warna pada hari-hari Ais. Tapi…”
“Tapi apa de..?”

“Tapi Ais tentu berbeda jauh dengan kakak, Ais yang hanya, Lulusan SMA di banding kakak yang sarjana, apa kata orang bila seorang Sarjana Ekonomi yang sudah hampir menyelesaikan S2nya menikah dengan penjaga toko seperti Ais?”

“De, jangan membuat kakak marah, kakak mencintai ade bukan karena derajat, tapi karena kecocokan hati de, Walau kita emang berbeda tapi apakah selama ini kita pernah berselang pendapat? Ade juga tahu dan paham tentang pekerjaan kakak. Ade juga tahu Kakak ingin punya istri yang bisa memahami suami. Dan itu ku temukan pada diri Ais.”

“Ade tidak lupa tentang mimpi kakak itu. Tapi apakah kakak lupa dengan mimpi Ais? Ais juga kepengen melanjutkan sekolah sampai tingkat yang setinggi-tingginya, oleh karena itu Ais harus bekerja siang malam mencari biaya untuk ditabung agar bisa meraih mimpi Ais. Tapi kl Ais menikah dengan kakak, itu berarti Ais harus membuang mimpi Ais”

“De’, semua itu bisa di atur. Kakak juga tahu betul mimpi Ais. Kakak pasti ngijinin Ais untuk meraih mimpi itu De’, kakak akan dukung 7000 persen sebagai suami Ais”

Air mata ais sudah berada diujung sudut matanya. Tertahan. Ais, senang mendengar pernyataan Ali yang sama sekali tak disangkanya ini. Terjawab sudah pertanyaan Aisya, mengapa tiba-tiba Ali ingin bertemu dengannya. Ini kah alasannya?

 “Keputusan Ais kembalikan pada kakak,jika kakak bisa mewujudkan mimpi Ais tentu saja Ais bahagia, tapi tentu itu sulit bagi kakak, karena berarti Ais tidak bisa menjalankan tugas sebagai seorang istri dengan baik karena nantinya harus membagi konsentrasi dengan kegiatan lain. Itupun juga tidak semudah melabuhkan hati kak, kalaupun kakak tidak bisa, Ais tidak akan kecewa, kakak akan tetap jadi kakak Ais.”

Agak lama Ais menunggu balasan dari Ali. Ais juga tidak bisa meninggalkan mimpinya hanya demi cinta. “Ais beri waktu kepada kakak untuk memikirkannya..” lanjut Aisya. “Terserah kakak mau waktu berapa lama… tapi jangan terlalu lama ya kak.. nanti keburu ilang hehehe…” keadahan hati Ais sebenarnya sedang tegang tapi ucapan yang di katakannya seakan santai saja malah terkesan bercanda. Itu agar Ali tidak terlalu tegang juga.
 ***

Aisya masih belum percaya dengan pernyataan Ali. Apakah Ali serius dengan kata-katanya. Aisya memang telah mengenal Ali cukup lama, tapi bertemu dengannya baru sekali itu saja. Dan pernyataan Ali langsung membuat Aisya tidak bisa memejamkan matanya malam itu.
Aisya lalu bangun dan mengambil laptopnya, menyalakan dan langsung online. Membuka situs jejaring sosial yang mempertemukannya dengan Ali. Melihat-lihat kembali isi profil orang yang katanya ingin menikahinya.

Nama                           : Muhammad Ali Furqan
Jenis Kelamin               : Laki-laki
Tanggal Lahir               : 21 Maret 1984
Status hubungan           : Bertunangan
Hari jadi hubungan       : 06 Agustus 2008

Mata Aisya terhenti pada baris ini....Betunangan? sejak kapan Ali punya tunangan? Hmmn..pasti cuma iseng nih kakak. Pertanggal 06 Agustus 2008, bukankah Aisya kenal Ali sejak Desember 2008, jadi...Jemari Aisya bergetar.. Apa maksudnya ini, Kak? Sejak kapan Ali mengganti profilnya ini.
Lalu Aisya menyadari sesuatu dibagian atas monitornya, sebuah kotak bertuliskan “Tambahkan sebagai teman”

Jari Aisya semakin tidak bisa ia gerakkan. “Apa maksud semua ini kak?” Batin Aisya. Kenapa kak Ali menghapus Aisya dari daftar temannya. Tiba-tiba Aisya tidak dapat berfikir. Pikirannya membatu. Begitu juga tubuhnya.

Ketika sadar, Aisya lalu mencoba menghubungi Ali lewat handphonenya. Tidak Aktif. Aisya makin gelisah. Beribu prasangkaan menyerang ke pikirannya. Mengapa Ali tiba-tiba seperti menghilang, menjauh darinya.
Lalu kemana Aisya harus mencari. Mencari Ali, mencari jawaban semua ini?  

“Tolong Aisya, ya Rabb. Ais, sudah merasa menemukan sosok yang Ais inginkan hanya saja Ais perlu waktu untuk mengiyakan atau menerima anugrahmu itu agar Ais bisa merasakan indah pada waktunya atas nikmatmu itu. Lalu kenapa sekarang jadi begini, padahal Ais hanya minta waktu. Kenapa dia yang menghilang terlebih dahulu padahal Ais yang kemarin bercanda takut ilang duluan. Ya Rabb, berikan Ais petunjukMu, jangan biarkan Ais terombang-ambing dalam masalah ini” Berdoa Aisya ditengah malam yang tiba-tiba jadi menggigit sampai ke hatinya. Membuat pipinya basah lagi, Beban Aisya pun bertambah karenanya.
***

Comments

Popular posts from this blog

FAIRY

Pengen deh jadi angel, Peri, bidadari atau apalah namanya... mereka tampak cantik sekali... Atau seperti putri2 dalam cerita dongeng. 

Bendahara Harus Mahir Pajak (Part 2)

Ehhem.... Singkirkan segala macam tumpukan kertas dari hadapanku... aku mau ngetik, ngisi blog .... mumpung lagi ada inspirasi dan kesempatan.......masa' iya tahun 2017 sudah di Septembernya tapi blogku masih kosonng. HAI HAI HAIIII... jumpa lagi dengan tulisan tak penting dari akuuuu... Assalamu alaikuuuum... Apa kabar? Udah pada nunggu lanjutan "Bendahara Harus Mahir Pajak"" Yaaaaa????  Apa?  ENGGAk??  HIKSss.. BUBAAArrrr... ..............

BENDAHARA HARUS MAHIR PAJAK (PART I)

Assalamualaikum.... Akhir-akhir ini jadi rempong sendiri melayani para bendahara pengeluaran pembantu alias bendahara di puskesmas yang sering bertanya soal pajak. Gimana cara ngitungnya, berapa tarifnya, apa jenis pajaknya, gimana SSP nya?? macam-macam lah pertanyaannya. Jadi bosan ditanya terus, bahkan sudah berulangkali dijelaskan juga masih bertanya lagi.... Saya sih maklum dan coba sabar ajah, mengingat latar belakang pendidikan mereka rata-rata dari ilmu kesehatan. Nah Loh, kok jadi bendahara?? yaa.. mau gimana lagi, kalo tenaga yang disediakan cuma itu. Seharusnya kan pekerjaan seperti itu ditangani oleh ahlinya juga, tapi APBD maupun APBN belum mampu untuk pengadaan pegawai lagi. Ah, kok malah bahas pengadaan pegawai. Back to topik....