Hari minggu kemarin di lingkungan rumah sangat ramai. Ada acara maulidAn yang dirangkaikan dengan acara syukuran yang dilakukan oleh keluarga besar dari Ayahku. Syukuran atas berkat yang telah diberikan "Karaeng" Allah swt kepada keluarga kami selama ini. Meskipun dua orang tante dari pihak Ibuku sedang terbaring sakit di rumah sakit, bahkan salah satunya sedang persiapan untuk operasi keesokan harinya, tetap saja acara yang merih2an ini dilakukan karena sudah di nadzarkan, begitu kata orang2.
Pagi2, aku sudah bangun meski niatnya semalam akan bangun setelah pukul 10.00, tapi mungkin karena sudah biasa bangun pagi kali yaa...(Haaaaaah?) jadi ngak enak kl terlalu lama tidur. Niatnya memang mau bangun telat karena semalam abis olahraga malam. Apa tuuuh? Ayo coba apaan?. Jalan kaki dari rumah sakit ke rumah yang jaraknya kira2 ada 50.000 langkah, wuih..berapa km yah??...Sayangnya malam itu aku nggak bawa meteran, jadi nggak bisa ngukur deh. hihihi. Yaaa, aku bersama rombongan sepupuku, jalan karena sudah nggak ada lagi kendaraan yang lalu lalang jam segitu, pukul 11.00.
Tapi pas bangun pagi harinya, aku nggak terlalu merasa kelelahan. Mungkin karena sudah terbiasa jalan kali yaaah. (Makin kurus saja badanku ini, tiap pagi ama sore jalan teruuuuuuuus). Pas bangun langsung ngeliat kondisi di rumah nenek di samping rumah. Udah rame, Tante2 udah pada berdatangan buat ngebantu2 buat makanan. Aku juga segera bergegas menampakkan muka dihadapn mereka. Ikut ngumpul2, bantu2 juga dikit, motong2 sayuran, iris bawang, dan nyabutin rumput, Lho? iya... abis udah nggak ada kerjaan lagi yang bisa aku lakukan. Setelah nyantai dikit, bersenda gurau dengan keluarga besar, aku merasa kegerahan lalu pulang untuk mandi, hari juga rupanya sudah beranjak siang...(Jiah, bahasanya).
Di rumah aku nggak langsung mandi, tapi memenuhi hasrat jiwa dulu. Lapar. Nengok bawahnya tudung saji, kagak ada makanan. eh, ada kecap sebungkus, buat nasi goreng deh dengan modal kecap, nasi ama garam. Setelah makan baru mandi, tidak lupa menggosok gigi, abis mandi ku tolong ibu, membersihkan tempat tidurku. Eh, iya sudah jam segini, aku lupa tempat tidur belum dibersihkan.. hehehehe.
Setelah itu balik lagi ke rumah nenek, ngeliatin orang2 pada bersibuk2ria, yaa sesekali juga ngedoain biar cepat selesai..hehehe. Bantu juga lah seperti tadi, motong2 apa kek, ngangkutin ini itu...pokoknya yang penting terlihat sibuk juga. hihi.
Dan hal yang paling ditunggu2 di acara ini adalah kehadiran kelompok pemain musik tradisional makassar. Namanya Paganrang dan Pui'-Pui...entahlah apa begitu namanya, lengkap dengan pakaian khasnya juga, baju merah, lipa' sabbe kotak2 merah hitam dan topi dari kain yang dibentuk runcing bagian atasnya. Pernah liat orang2 kerajaan Makassar, seperti sultan Hasanuddin kan..yaaa seperti itulah, tampilannya. Hanya kali ini mereka bukan ingin berperang, hanya ingin memainkan musik.
"Tung...Duk...dakk...Dak..Dung..." (Duuuh, gimana sih nge-ekpresiin bunyinya...)
Pokonya rame banget dah, saat mereka mulai memainkan musiknya. Dan yang membuat seru adalah musik itu akan terus dimainkan secara berkala sampai dengan pukul 24.00. Jadi, hari itu kami sekampung nggak ada yang tidur sampe pukul itu.
Dan satu kejadian yang agak menakutkan sekaligus unik menurutku. Salah seorang tanteku kerasukan, arwah nenek moyang dari pangkep katanya datang jauh2 melalui jalur air (berenang) karena kendaraan kuda yang biasa digunakannya sedang tidak bisa dipakai, entah karena apa?. Pantesan aja maunya berselimut teruss, kedinginan. Trus tiba2 pakaiannya jadi lembab seluruh badan...ooooh..abis berenang toh mbah.
Satu persatu si mbah (tante yang kerasukan itu) memperhatikan orang disekitarnya. Lalu satu2 pula dikomentari. Si mbah, bilang si itu anaknya begini, si anu orangnya suka ini dan itu...pokoknya seperti seorang paranormal yang sedang memaparkan sifat2 orang yang dilihatnya. Lalu para ibu2 yang lain pada pengen tahu sifat anak2 mereka, lalu bertanya sama si mbah, kl anak sy yang itu (sambil menunjuk orang yang dimaksud) gimana?
"hmmm....nakal sekali itu" Sebenarnya di ucapin dalam bahasa bugis cuma aku nggak ingat gimana bahasanya, kira2 artinya begitu.
Sembari musik terus berbunyi orang2 juga pada berdatangan karena mendengar seorang nenek moyang telah datang dan mulai menganalisa sifat2 orang2 disekitarnya. Beberapa orang sepupu aku juga ada yang mundur dan tak berani mendekat. "Edede, nanti na buka kartuTa" begitu kata mereka sambil menjauh..hehehe..takut dibeberin sifat2 negatifnya kali...hihi.
Dan, tibalah giliran saya, si mbah yang ada dalam tubuh tanteku itu menataku. Aku tersenyum. Si mbah lalu bilang " klo itu iyya kah kecil mentongi, tidak bisami itu berubah, begitu terusmi badannya...Tapi bagusji itu anaknya tawwa..." wuiiiiiiih....kata2nya menciutkan niatku untuk program penambahan berat badan. hehehe. lalu aku mulai tersipu malu juga karena semua mata memandang kepadaku dan menertawaiku. Tapi untung saja si mbah nggak bilang2 tentang sifat negatif aku seperti yang lain2nya, huft...agak takut juga sih kl tiba2 si mbah buka kartu AS ku, Vitri kan juga punya sisi negatif, dan bakalan maluuu banget jika diungkap di forum malam itu. Hahha....Entah karena si mbah belum bisa menembus pertahanan imanku (Jiaaaaaah), atau karena memang si mbah sayang padaku dan tidak mau mempermalukan aku... hihihi. Makasih ya Allah, engkau melindungiku.
Kita beranjak dari si mbah, acara puncak malam itu sudah dimulai, waktu sudah menunjukkan pukul 11.00. Saatnya membawa sebuah kotak berbentuk rumah2an yang berisi makanan (mungkin ini yang namanya sesajen) ke aliran sungai je'ne' berang. Masih dengan Alunan musik yang meriah dari para pagandrang dan pa ppui'pui'...aku terus mengikuti prosesi itu hingga ke pinggir sungai. Dan akhirnya benda itu di alirkan di atas air bersama makanan2 didalamnya. Songkolo patang rupa, bayao, unti, pallu basa dan ayam panggang. Hmmmn, enak banget makanan itu, tapi sayang semuanya tidak bisa diambil lagi karena tiba2 rumah2an itu terbalik dan menjatuhkan semua isinya ke dalam air. Hahhay. Penonton kecewa.
Huft....aku agak bertanya-tanya juga ketika melewati seharian itu. Prosesi ini, katanya acara syukuran dan menyambut maulid Nabi. Tapi aku tahu juga bahwa ini tidak ada dalam syariat Islam, lalu kenapa aku terus mengikutinya? bukankah aku berdosa. Bukankah ini namanya musrik, karena berdoa dan bersyukur kepada Allah melaui perantara seperti ini. Melalui arwah nenek moyang. aku terus bertanya sepanjang hari. Namun tidak ada yang bisa menjawabku karena tidak ada yang mendengar pertanyaanku dan semua orang tampak mnikmati acara itu.
Aku juga, menikmatinya. Aku menikmatinya sebagai suatu bagian budaya daerahku yang baru saja aku lihat lagi setelah beberapa lama. Aku menikmatinya karena takjub melihat permainan music tradisional dan keramaian orang2 yang datang. Aku menikmatinya sebagai ajang berkumpul dan bersilaturahmi dan sebagai ajang untuk memperlihatkan budaya sendiri kepada orang2 sekitar ketika arak2an musik keluar kampung melewati komplek pada tengah malam itu pukul 23.00 dan bangga rasany amelihat orang2 pada keluar dan memperhatikan kami. Mungkin karena terpana juga melihat rombongan orang2 asli makassar ditengah malam yang membangunkan mereka dari mimpinya.
Sepanjang perjalanan arak2an itu juga aku terus bertasbih dan beristigfar kepada Allah. Memuji kebesaran Allah, karena aku bisa melihat bintang2nya dilangit malam itu yang begitu indah, pemandangan malam yang sepi namun menghadirkan aroma tersendiri di hatiku ketika mobil pickup yang membawaku diatasnya menerobos jalanan di sekitar benteng somba opu. Sunyi, sepi, damai...Aku seperti tidak lagi mendengar arak2an music yang berada tepat dibelakangku padahal bunyinya masih sangat ramai, pikiranku dipenuhi akan kekaguman pada malam ciptaan Allah. Juga meminta ampun kepada Allah jika sekiranya apa yang aku ikuti ini hanya sebuah kesia-siaan atau mungkin sebuah dosa, aku minta ampun ya Allah.

Comments
Post a Comment
Jangan keluar.....
sebelum meninggalkan Comment Ya......