God, apa kabar? Sudah lama sekali ya Vitri tidak menyapaMu dengan cara ini. Kau kangen Vitri nggak, God? Hm…mungkin Vitri yang kangen. Mungkin ya? Kok Vitri kesannya ngelunjak sich?
God, Kau pasti lebih tau kenapa Vitri menggunakan cara ini lagi untuk bertemu denganMu. Yah, Vitri ngerasa sendiri lagi. Padahal Vitri sekarang udah nggak pernah belang lagi
Hua…Kau tau setan apalagi yang kini mengagresi benua kecil di diri Vitri? Beri tau Vitri dong, God. Kembali Vitri merasakannya. Hal ini, sebuah penggalan rasa masa lalu Vitri.
Ah, tidak. Mungkin lebih tepat disebut sebagai bagian dari siklus hidup Vitri. Yang mau nggak mau harus Vitri diami beberapa saat. Hm…so pasti masih ada serpihan-serpihannya yang menunggu kedatangan Vitri.
Ah, tidak. Mungkin lebih tepat disebut sebagai bagian dari siklus hidup Vitri. Yang mau nggak mau harus Vitri diami beberapa saat. Hm…so pasti masih ada serpihan-serpihannya yang menunggu kedatangan Vitri.
Ya…bukan Vitri aja yang kangen padaMu, tapi ‘mereka’pun kangen ke Vitri. Prajurit-prajuritMu, God. Mereka menyukai Vitri ya? Mereka ingin kembali bermain dengan Vitri, bercanda, dan mendengarkan dongeng hati dalam buaian tangan Vitri. Di atas pangkuan Vitri. Indah banget berada dalam lingkaran itu.
Saat mereka menari mengelilingi Vitri, saat mereka menadahkan tangannya untuk menampung tetes-tetes air mata Vitri. Dan kemudian menguapkannya menjadi embun pelepas dahaga jiwa Vitri. Ya, Vitri tau untuk apa mereka semua Kau utus. Thx, God.
God, Vitri…mungkin akan mulai berubah, tepatnya merubah, mungkin. Vitri nggak tau hal apa aja yang bakal berubah. Tapi Vitri mulai dari titik yang mungkin banyak membuat orang tertawa saking usangnya kata-kata ini ada dalam sejarah peradaban manusia. Yah…Kau tau apa maksud Vitri. Dan memang dari sana lah Vitri harus mulai. Ah, God. Bahkan Kau pun mentertawakan Vitri? Aduh, Vitri jadi kepengen malu neh. Hi hi hi…
God, kok Vitri ngantuk banget ya hari ini? Eh, salah…apa kemaren juga Vitri nggak ngantuk gituh ya? Hm…kayaknya sich ngantuk juga sama kayak sekarang. God, apa yang akan terjadi ke Vitri ya? Besok..lusa..besoknya lagi..minggu depan, bulan depan, taun depan…dan kehidupan ketiga Vitri.
Uhm…Vitri mungkin Kau ciptakan untuk menjadi melankolis kayak gini. Romantis juga, plus sensitif. Komplit semua, tapi…untunglah Kau buat Vitri tegar dan berani juga. Jadi masih bisa ditulungin. Huks…dari dulu sepertinya Vitri udah sering bilang kalau Vitri hanya akan pasrah saja pada semua kehendakMu.
Uhm…Vitri mungkin Kau ciptakan untuk menjadi melankolis kayak gini. Romantis juga, plus sensitif. Komplit semua, tapi…untunglah Kau buat Vitri tegar dan berani juga. Jadi masih bisa ditulungin. Huks…dari dulu sepertinya Vitri udah sering bilang kalau Vitri hanya akan pasrah saja pada semua kehendakMu.
Tapi Kau pasti tau kalau Vitri tidak akan melakukannya. Hm…tepatnya mungkin tidak bisa. Yah, Vitri udah coba. Tapi susah banget. Maafin Vitri,God. Ada saatnya Vitri ingin sekali melakukan itu. Tapi kemudian Vitri berpikir lagi. Kau tentu tidak mau melihat Vitri menyerah dan hanya diam tunduk pada semua yang Kau berikan ke Vitri. Dan tentu saja, semuanya kembali ke diri Vitri sendiri. Semua yang Vitri lakukan itu untuk diri Vitri sendiri, kan ?
God, entahlah…tapi kali ini Vitri kembali merasakan hal yang dulu sempat menjadi terindah dalam hidup Vitri. Tapi hal itu sekarang sudah berubah sama sekali. Yang ada hanya kosong, hampa…dan rasa yang uhm…bisa membuat Vitri jadi cengeng gini.
Duh, ampun dah Vitri kalo udah gini. Kau mungkin tau dimana saat Vitri mulai berfikir kalo Vitri emang tidak punya hak untuk itu. Vitri hanya bisa jadi objek, bukan subjek. Sebenernya sich kalo dalam hal ini mah jadi objek tuh asik banget. Tapi…pengen juga dong Vitri ngerasain jadi subjek. Vitri kangen suasana dulu itu. Huah…Kau dulupun sepertinya terpingkal-pingkal melihat reaksi Vitri saat Kau anugerahkan hal itu. Apa Vitri yang emang terlalu hiperaktif ya? But it’s ok.
Eh, tapi mungkin juga ini korelasi antara apa yang telah Vitri lakukan dengan semua yang kini Vitri dapatkan dariMu. Vitri nggak berhak samasekali menanyakan kenapa kepadaMu. Karena Vitri tau terlalu banyak hal yang membuat Vitri memperolehnya.
Hi hi hi…kesannya Vitri ngerajuk ya? Aih-aih…Kau memang tidak terlihat oleh mata yang ada di kepala Vitri ini. Tapi Kau sangat terlihat jelas oleh mata hati Vitri. Terasa, walaupun Vitri tau kepekaan Vitri untuk hal ini sangatlah minim. Maka dari itu Vitri ingin bermanja padaMu. Daripada Vitri manja-manjaan ama guling. Nggak pa-pa ya Vitri ngerajuk gini?
God, Vitri tau Kau mendengarkan dan pasti lebih tau apa yang akan Vitri tulis di sini. Yah, walaupun pasti lebih banyak orang yang lebih layak mendapatkan perhatian dan sayangMu. Tapi Vitri tau Kau tetap mau mendengarkan dan memperhatikan setiap apa yang Vitri katakan.
God, tadi malem Vitri bener-bener ngerasain dan sadar kalo setiap orang pada akhirnya nanti harus menjalani kehidupan sendiri. Menjalankan peran masing-masing. Di garis yang telah Kau buat. Kemudian…satu per satu adegan dalam sebagian kecil kehidupan Vitri kemarin nampak di hadapan Vitri. Sangat jelas, God.
Kau tau? Vitri bener-bener sadar. Kehidupan sekarang terlalu pendek. Vitri nggak tau kapan, akan tiba saatnya nanti, Vitri pun harus mengakhiri episode hidup Vitri yang ini untuk beranjak ke episode selanjutnya. God, Vitri jadi inget semuanya. Hal-hal sakral yang telah terjadi pada Vitri. Nggak kerasa Vitri udah tua, ya?
Ah, God. Vitri telah kehilangan semuanya. Kau taukan kalo kehidupan Vitri yang terindah itu pada saat masa sekolah Vitri? Kemudian Vitri mulai menjadi terlalu individualis pada saat Vitri kuliah.
Dan akhirnya Vitri membangun sebuah taman bermain dalam diri Vitri untuk Vitri tinggali. Tentu saja, tidak ada akses bagi siapapun untuk masuk ke dalamnya. Kecuali Kau tentunya, God. Bukankah tentaraMu membantu pada saat pembangunannya? Dan Kau-lah arsiteknya. Sketsanya Vitri dapat dariMu.
Ah, God. Vitri telah kehilangan semuanya. Kau tau
Dan akhirnya Vitri membangun sebuah taman bermain dalam diri Vitri untuk Vitri tinggali. Tentu saja, tidak ada akses bagi siapapun untuk masuk ke dalamnya. Kecuali Kau tentunya, God. Bukankah tentaraMu membantu pada saat pembangunannya? Dan Kau-lah arsiteknya. Sketsanya Vitri dapat dariMu.
Kadang Vitri suka bihun sendiri kalo udah gini. Tapi udahlah, Vitri nggak mungkin lepas atau melepaskan diri dari semuanya. Dan Vitri emang menikmati juga, so what gitu loh. Vitri sich dateng melow nya kalo udah gini aja. Kangen ama orang itu. Atu-atunya tuh. Tapi vital banget. Orang yang paling Vitri sayangi setelah diri Vitri sendiri. Tapi Vitri juga tettep harus melupakannya dan mencari yang lain.
God, apa bener yang dikatakan ‘mereka?’ Vitri kesepian? Ah, God. Bukankah Vitri masih memilikiMu? Jadi tak ada alasan untuk Vitri menjadi kesepian, kan ?
Huks…tapi mungkin itu adalah benar. Karena Vitri ngerasa…Vitri nggak punya siapa-siapa. Yah, di sini. Di dunia ini. Yang Vitri miliki hanya orang tua Vitri, adik Vitri, keluarga Vitri. Dan Vitri sangat menyayangi mereka.
God, Kau tau kan gimana Vitri saat Vitri inget hal itu? Kau tau bagaimana sulitnya Vitri menahan air yang memaksa keluar dari mata Vitri? Sakit, God. Eh, Kau nggak bakal bilang ke orang laen kan kalo Vitri sering ngeluh gini? Malo dong Vitri kalo ketauan yang laen mah.
God, mungkin emang bener juga, Vitri sama sekali belom dewasa. Uhm…mungkin Vitri terlalu manja. Dari dulu, Vitri belum pernah merasakan seperti ini. Belum pernah disakiti. Vitri tidak biasa berada dekat dengan orang yang kontra ke Vitri.
Huiks huiks…Vitri bener-bener harus banyak belajar lagi. Vitri menganggap bahwa diri Vitri telah mengalami banyak hal, telah merasakan berbagai rasa dari kehidupan. Tapi nggak, god. Vitri belum tau apa-apa tentang kehidupan.
Vitri selalu menganggap diri Vitri lebih dewasa dari orang lain. Hua…kok Vitri angkuh bangget ya? Tidakkah Kau tertawa saat Kau tau jalan pikiran Vitri yang nyeleneh kayak gitu? Atau tawaMu perlahan sampai Vitri tidak menyadarainya? Du ru ru ru…
God, Vitri ingin kedamaian. Kedamaian yang pernah Kau berikan ke Vitri. Seperti itulah. Kau lebih tau apa maksud Vitri. Mungkin… Vitri sekarang bisa menemukannya. Seperti juga kemarin, tak ada perubahan. Kedamaian itu tetap pada tempatnya semula. Tidak beranjak sama sekali.God, Vitri nggak tau…benar atau salahkah apa yang sedang Vitri lakukan sekarang. Vitri bingung banget. Vitri nyoba jalanin sesuai dengan apa yang telah Vitri katakan.
Walaupun hati Vitri tidak mendukung sepenuhnya. Bener-bener, Vitri nggak tau lagi kudu gimana. Apa ini hanya merupakan perwujudan dari salah satu ego Vitri? Yang selalu menginginkan hal terbaiklah yang harus terjadi pada Vitri. Hal terbaik menurut diri Vitri sendiri. Bukan menurutMu, atau menurut kebaikan itu sendiri. Yah, mungkin standar kebaikan kita berbeda, God. Hiks...beri Vitri petunjuk untuk mengerti dan menjalankan standarMu itu.
(Thanks to mbak Rika _Yunita)

Comments
Post a Comment
Jangan keluar.....
sebelum meninggalkan Comment Ya......