Skip to main content

Keinginanku


Aku ingin mendengarkan nyanyian yang mengalun lembut hari ini. Siapa yang mau menyanyikannya untukku dengan sungguh-sungguh. Meskipun terdengar jelek adakah yang mau diam-diam menyanyikannya untukku?

Aku ingin mendengar suaranya,
mendengar kata benci dan antipati yang diucapkannya sendiri. Kata-kata yang tidak enak untuk aku dengarkan. Tak mengapa, asal itu adalah suaranya. Tapi, bagaimana kalau kata-katanya  membuat dadaku makin sesak? Maka matilah aku. Untungnya, sampai sekarang suaranya tidak pernah menyesakkanku.
Aku ingin segera tertidur lalu bermimpi yang saaaaaaaangat panjang tentang diriku dan dirinya tentu. Kisah indah yang hanya akan ada dalam mimpiku, dengan bagian akhir seperti ini: “...akhirnya mereka pun hidup bahagia untuk selama-lamanya....” Meski aku akan terbangun sebelum adegan yang ditungu-tunggu lalu menghela nafas pertama dipagi hari. Huft,  ternyata cuma mimpi.
Aku ingin cepat-cepat pergi dari sini. Bukan, bukan dari tempat ini. Tapi dari keadaan dimana aku terperangkap sekarang. Aku mau lari, lari dari orang-orang yang hanya bisa membuatku bingung, kecewa lalu sakit hati. Untung saja nggak sampai bunuh diri. Iiiiiiiiih, Naudzubillah.
Aku ingin berhenti untuk berpikir, lebih tepatnya berhenti memikirkan tentangnya. Tapi aku juga gak rela untuk melupakan, lebih tepatnya melupakan kebejatannya (Oops..). Sabar, sabar, sabar. Aku mencoba untuk sabar. Sabarku yang selalu diiringi air mata, apa itu yang disebut sabar? (aku rasa bukan). Ya Allah, ajari aku untuk sabar tanpa aliran air mata.
Aku ingin berhenti menangisi bagian masa lalu yang itu (bagian mana??). Sayangnya keberadaanku di sini memberikan kebebasan untuk menangis karena tidak akan ada yang memarahiku dan sialnya lagi, aku sukaaa sekali menangis. Jika air mataku malam ini dikumpulkan pasti sudah cukup untuk mengisi galon air mineral yang kosong di luar.
Aku ingin ada tangan yang menyentuh pipiku yang dingin oleh air mata ini. Aku ingin ada yang memelukku, meringankan bebanku yang bertambah karenanya. Aku ingin...... Engkau mengabulkannya, ya Allah.
Setiap hari kubuka lembaran yang sama (Diaryku), terus kutulis cerita yang sama (Kisahku). Cerita yang tidak pernah berubah. Aku ingin temukan keajaiban yang tersembunyi di setiap hari dan terus akan kucari cerita yang tidak pernah berubah.
--------- 




Kugoreskan tinta semalam ketika sedih karena siang harinya sapaanku di YM dibalas dengan bentakan halus khas orang Makassar “APA DE”.
  
 Jakarta10 November 2009

Comments

Popular posts from this blog

FAIRY

Pengen deh jadi angel, Peri, bidadari atau apalah namanya... mereka tampak cantik sekali... Atau seperti putri2 dalam cerita dongeng. 

Bendahara Harus Mahir Pajak (Part 2)

Ehhem.... Singkirkan segala macam tumpukan kertas dari hadapanku... aku mau ngetik, ngisi blog .... mumpung lagi ada inspirasi dan kesempatan.......masa' iya tahun 2017 sudah di Septembernya tapi blogku masih kosonng. HAI HAI HAIIII... jumpa lagi dengan tulisan tak penting dari akuuuu... Assalamu alaikuuuum... Apa kabar? Udah pada nunggu lanjutan "Bendahara Harus Mahir Pajak"" Yaaaaa????  Apa?  ENGGAk??  HIKSss.. BUBAAArrrr... ..............

BENDAHARA HARUS MAHIR PAJAK (PART I)

Assalamualaikum.... Akhir-akhir ini jadi rempong sendiri melayani para bendahara pengeluaran pembantu alias bendahara di puskesmas yang sering bertanya soal pajak. Gimana cara ngitungnya, berapa tarifnya, apa jenis pajaknya, gimana SSP nya?? macam-macam lah pertanyaannya. Jadi bosan ditanya terus, bahkan sudah berulangkali dijelaskan juga masih bertanya lagi.... Saya sih maklum dan coba sabar ajah, mengingat latar belakang pendidikan mereka rata-rata dari ilmu kesehatan. Nah Loh, kok jadi bendahara?? yaa.. mau gimana lagi, kalo tenaga yang disediakan cuma itu. Seharusnya kan pekerjaan seperti itu ditangani oleh ahlinya juga, tapi APBD maupun APBN belum mampu untuk pengadaan pegawai lagi. Ah, kok malah bahas pengadaan pegawai. Back to topik....