Tak mampu melepasnya walau sudah tak ada, kata Letto. Seperti itulah aku. Pagi ini merasakan hal itu, tak mampu menerima sesuatu, kabar berita yang aku saksikan dengan mataku sendiri, yang aku baca dengan pikiranku sendiri. Walau aku tak percaya, tetap saja aku sakit, lagi.Aku pernah merasa memilikinya, dan betapa sakit ketika aku sadar bahwa aku hanya merasa saja. Aku tidak pernah mengira kalau dia kan sirna, walau aku gak percaya. Ada rasa kehilangan karena aku pernah merasa memilikinya. Rasa kehilangan itu sekarang makin membuncah, membawa rasa sakit pula. Sedih, gelisah, gusar, gundah, aaaargh apalah namanya itu...
Sekali lagi, Aaaarrrgggghhh......
Siapalah aku ini, hanya bagaikan debu baginya. Yang hanya bisa menusuk mata dan pandangan jika di hadapannya. Juga di hadapan orang2 lainnya. Hilang tak berbekas setelah dibersihkan dengan sedikit sabun, atau bahkan hanya dengan tiupan angin yang lewat. Aku hilang tak disesalkan.
Tak sedikitpun aku dianggap, tak secuil, tak seujungkuku pun. Apalagi yah istilah untuk mengungkapkan itu?. Namun bagiku, dia sangat berarti. Dia memberiku pengalaman yang amat berharga. Dia sering menemani, menghibur dan menyayangiku di alam mimpi. Memberiku inspirasi untuk menangis, merenung dan menulis. Mengingatnya, kadang membuatku bahagia tapi lebih banyak menguras air mataku. Mengetahui kabarnya adalah hal yang membuatku bersemangat setiap pagi.
Tapi, pagi ini....... hatiku luluh lantak, hancur lebur berkeping-keping (Lebay yah? Emang Kok) setelah membaca kabar darinya itu. Hiks...hiks...hiks. Gimana sih kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kesedihanku sekarang??? Agar kalian, para pengunjung blogku bisa mengerti bahwa aku sedang bersedih.
Comments
Post a Comment
Jangan keluar.....
sebelum meninggalkan Comment Ya......