Skip to main content

Aku Bukan Wanita yang Baik


Begitu banyak hal-hal salah yang sering aku lakukan. Setiap hari, yang aku sadari maupun yang tidak. Yang aku sadari saja sudah begitu banyaknya, apalagi yang tidak. Akhir-akhir ini aku merasa harus instropeksi diri. Mengingat banyaknya hal-hal buruk yang mendekatiku.

Aku harus berubah, mengganti setiap kebiasaan burukku agar aku menjadi wanita yang baik. Dengan begitu aku akan berinteraksi dengan hal-hal yang baik juga.
  1. Bercerita tentang kebiasaan buruk orang lain.
Hal ini yang paling sering. Sebagai wanita dan sebagaimana diketahui umum, aku juga kadang terlibat dalam pembicaraan seperti ini. Membicarakan hal-hal negatif orang, sedangkan perilaku negatif sendiri tidak aku perhatikan.  Begitu asyik rasanya ketika tertawa atau berbisik-bisik karena objek kesalahan atau kekurangan orang lain. Astagfirullah al-Adzim.
  1. Berkhayal dan berangan-angan tanpa ujung.
Setiap orang punya impian, begitu pula aku. Sebagai wanita lagi nih ya, salah satu impianku adalah bertemu pria yang baik. Tak jarang aku berkhayal kemana-mana ketika bertemu atau melihat sosok pria yang sesuai impianku. Bahkan sampai, ketingkat yang seharusnya belum aku pikirkan. Betul-betul angan yang kosong, sia-sia. Karena aku pengennya pria yang baik, maka aku juga harus jadi wanita yang baik, ya kan.
“...Wanita yang baik adalah untuk pria yang baik, dan pria yang baik juga hanyalah untuk wanita yang baik” (Qr. An-Nur:26)
Firman Allah selalu benar, dan aku beriman kepada Allah. Tuhanku yang satu.
  1. Lain dimulut lain dihati
Dalam hal dunia aku kadang seperti ini.  Sungguh merugi jika hal itu terjadi. Aku wanita munafik dan merasa paling kotor. Aku dihadapkan pada situasi dan kondisi untuk berkata tidak sesuai dengan hatiku. Aku nggak mau bertemu keadaan seperti itu lagi. Nggak mau, nggak mau, nggak mauuuuuuuuu. Aaaaaaaakh, mimpi buruk deh gua.
  1. Telat Shalat Subuh
Baiklah, aku akui bukan hanya sering telat tapi juga kadang nggak melaksanakannya. Shalat subuh yang penuh dengan keajaiban itu sering aku tinggalkan (Nggak sering-sering amat kok, sekali dua kali). Dosa banget diriku ini.
Ikatan Syaitan sungguh kuat diwaktu subuh, aku harus berjuang keras untuk bisa melawannya. Sungguh berbahagia aku ketika aku berhasil melepaskan ikatan-ikatan itu dan langkahku akan terasa ringan sepanjang hari. Sedangkan, ketika aku terbuai sampai pagi, tunggulah beban-beban kehidupan menjadi teramat sangat berat.
  1. De el el, De el el.
      Dan masih banyak lagi hal-hal buruk yang sering aku lakukan.
Cukup lima dulu deh (lima atau empat yah????), intropeksi kali ini. Berikutnya akan ku kaji lebih dalam keburukan-keburukan diriku. Mudah-mudahan dengan menorehkannya seperti ini bisa menjadi cambuk yang lebih memacuku untuk berubah. Berubah....... Menjadi Wanita Yang Baik. Amin ya Rabb.

Comments

  1. yg kaak gini bagus, bisa jadi hal buat introspeksi diri.

    ReplyDelete
  2. Di tambain Dong kritikan buat ku....

    ReplyDelete

Post a Comment

Jangan keluar.....
sebelum meninggalkan Comment Ya......

Popular posts from this blog

FAIRY

Pengen deh jadi angel, Peri, bidadari atau apalah namanya... mereka tampak cantik sekali... Atau seperti putri2 dalam cerita dongeng. 

Bendahara Harus Mahir Pajak (Part 2)

Ehhem.... Singkirkan segala macam tumpukan kertas dari hadapanku... aku mau ngetik, ngisi blog .... mumpung lagi ada inspirasi dan kesempatan.......masa' iya tahun 2017 sudah di Septembernya tapi blogku masih kosonng. HAI HAI HAIIII... jumpa lagi dengan tulisan tak penting dari akuuuu... Assalamu alaikuuuum... Apa kabar? Udah pada nunggu lanjutan "Bendahara Harus Mahir Pajak"" Yaaaaa????  Apa?  ENGGAk??  HIKSss.. BUBAAArrrr... ..............

BENDAHARA HARUS MAHIR PAJAK (PART I)

Assalamualaikum.... Akhir-akhir ini jadi rempong sendiri melayani para bendahara pengeluaran pembantu alias bendahara di puskesmas yang sering bertanya soal pajak. Gimana cara ngitungnya, berapa tarifnya, apa jenis pajaknya, gimana SSP nya?? macam-macam lah pertanyaannya. Jadi bosan ditanya terus, bahkan sudah berulangkali dijelaskan juga masih bertanya lagi.... Saya sih maklum dan coba sabar ajah, mengingat latar belakang pendidikan mereka rata-rata dari ilmu kesehatan. Nah Loh, kok jadi bendahara?? yaa.. mau gimana lagi, kalo tenaga yang disediakan cuma itu. Seharusnya kan pekerjaan seperti itu ditangani oleh ahlinya juga, tapi APBD maupun APBN belum mampu untuk pengadaan pegawai lagi. Ah, kok malah bahas pengadaan pegawai. Back to topik....