Duuuuh, Vitri bingung nih.
Saat aku mulai memasuki dunia kerja. Aku senang karena akhirnya bisa mengaplikasikan semua ilmu yang telah aku pelajari dibangku sekolahan dan perkuliahan. Semua yang selama ini hanya aku torehkan diatas kertas-kertas ujian untuk mendapatkan nilai semaksimal mungkin, sekarang bisa aku gunakan untuk kepentingan sebuah perusahaan yang membayarku untuk itu bukan lagi untuk sebuah nilai diatas rapor.
Perusahaan tempat aku bekerja sekarang adalah perusahaan yang baru saja memulai usahanya beberapa tahun. Aku melihat ada prospek dari perusahaan ini untuk bisa maju, tentu saja aku menilainya dari segi ilmu yang aku kuasai, Akuntansi. Sesuai perhitungan profitabilitas, likuiditas, solvabilitas dan rasio-rasio lain yang pernah aku pelajari.
Jumlah karyawan yang masih sedikit tapi perusahaan tetap bisa berjalan normal, meski tetap ada sedikit hambatan juga sih. Disini aku melihat adanya kesempatan untuk aku mengembangkan kemampuanku, apalagi untuk bagian akuntansi aku tangani sendiri. Aku juga yakin, ada kesempatan untuk mendapatkan posisi yang lebih baik nantinya, tentu saja dengan kesejahteraan yang lebih baik pula. Bukan sekedar yakin, tapi itulah yang dikatakan oleh pemegang saham terbesar perusahaan secara langsung kepadaku. Sang direktur utama, pemilik perusahaan.
Bapak itu menjanjikan bermacam-macam fasilitas yang bisa aku terima jika aku tetap bekerja untuknya.
Tapiii,
Keluargaku, orang tuaku, meminta aku untuk segera pulang.
Tempat aku bekerja sekarang jauh dari kampung halamanku. Orang tua ternyata nggak bisa jauh-jauh dari anaknya ini.
Aku sendiri, juga merasakan kehilangan yang amat sangat selama aku berada jauh. Kangen ngumpul dan berbagi keceriaan bersama saudara-saudara, kangen masakan Ammak. Kangen untuk ikut acara2 reunian teman-teman sekolah. Yang kesemuanya itu tidak bisa aku lakukan jika aku tetap disini. Dan mungkin nantinya aku juga bisa mendapatkan pekerjaan yang layak di kampung, mungkin.
Aku juga merasa nggak terlalu menargetkan tinggi-tinggi mengenai pekerjaan yang akan aku lakoni. Aku sadar betul sebagai wanita, pekerjaan termulia adalah mengurus keluarga, nantinya.
Satu hal yang aku khawatirkan jika keluar dari pekerjaan yang sekarang adalah posisiku belum ada yang bisa menggantikan, jadinya bakalan ribet. Aku nggak mau ninggalin kantor yang telah mengajariku dunia kerja ini dalam keadaan begini.
Trus, Vitri mesti milih yang mana?
Comments
Post a Comment
Jangan keluar.....
sebelum meninggalkan Comment Ya......