Hari kedua seperti yang kusebutkan sebelumnya, kedua pria itu datang lagi. Kali ini dia mengirimkan pesan singkat ke Mel lagi.
“Mel, aku sudah ada di halte nih, kamu ke sini yaah! Ada sesuatu yang ingin kuberikan” isi pesannya. (Kok, sama dengan pesan yang kemarin yaak, Ikh, nggak Kreatip nih cowok...).
“Yaaaa...Mba Fit, dia datang lagi nih” Keluh Mel.
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing. (Sebenarnya bukan gini bunyinya)
Belum sempat aku menjawab keluhan Mel, handphone Mel berbunyi dengan panggilan dari ID Pria yang berada di luar itu.
“Iii..Nggak sabaran banget sech” Keluh lagi.
Aku cuma tersenyum, “Sudah, dijawab gih panggilannya, kasian anak orang, eh eh trus loe loadspeaker deh biar aku juga dengerin” Pengen tahu gimana sih seorang cowok merayu gebetannya. Hihihi.
“Ya, Hallo....”
“Mel, Kesinii yah!”
“Enng..Ngak akh..Malas. Sudah malam”
“Ayo dong, aku mau ngomongin sesuatu”
“Adduh....Gimana yah. Iya, tapi aku ngajak mbak Fitri ya..!”
“Waaaah....Jangan. Nggak usah ngajak Fitri”
DUG.....Sakit hati aku mendengarnya.... Hehehe.
Singkat cerita dan menghemat halaman, Mel pun keluar menemui mereka.
Lima menit. Sepuluh menit. Mungkin ada tiga puluh menit deh, Mel datang lagi ke kamarku dengan membawa sesuatu ditangannya. Bungkusan gede, lebih gede dari kemarin.
“Makan-makan kita nih” Batinku.
“Mba, Nih” Mel menyodorkan bungkusan itu padaku dengan muka ditekuk sembilan (Bisa bayangin nggak?).
“Serius buat aku semua?”
“Yeee... makan tuh semua, berbahagialah diatas penderitaanku”
Ceilaaaaa.. segitunya....
“Apa...ada apa, apa yang terjadi di dunia luar sana?” tanyaku sambil membuka salah satu cemilan dari dalam bungkusan tadi.
“Dia nembak aku Mba”
What???
Hampir saja makanan dimulutku keluar lagi. Pengen ketawa, tapi takut Mel tersinggung dan betul-betul mengira aku bahagia diatas penderitaannya.
“Waaah, selamat yah. Bertambah lagi deh satu. Trus trus loe tolak lagi yah?”
“Iya lah” Mel memastikan.
“Yaaa....Besok kagak ada kiriman makanan lagi donk”
“Emang gue pikirin” Muka Mel makin ditekuk.
Huahahahaha. Aku tertawa. (Iyalah tertawa, Klo nangis tulisannya, hiks, hiks).
Kemudian handphone Mel berbunyi lagi. Ada pesan dari pria itu lagi. Intinya, berisi kekecewaan hatinya karena ditolak Mel, juga menyatakan harapannya untuk masih bisa mempertimbangkannya karena katanya dia sayaaaaaaaaaaang (kurang panjang nih kayaknya) sama Mel.
“Huh, kenapa sih dengan cowok-cowok ini. Sudah ditolak juga, masih aja ngotot” mengeluh lagi.
“Balas saja pesan itu, gunakan kata-kata yang halus, biar dia nggak tersinggung karena kadang kata-kata itu bisa jadi pedang jadi gunakan dengan bijak” Tumben aku bijak gini bahasanya.
Mel pun mulai mengetik pesan, beberapa kali meminta saranku kata-kata apa yang harus diganti dan yang harus dimasukkan. Dan jadilah sebuah pesan yang berisi kata-kata mutiara hasil karya Mel dan Fitri. (Harus dimasukkan dalam kumpulan kata-kata mutiara tuh).
Tapi Mel masih berpikir untuk mengirimnya. Kirim nggak ya.
Kirim, enggak, kirim, enggak.
Akhirnya dengan membaca surat Yasin sebelumnya, pesan yang sudah dirangkai kurang lebih setengah jam itu dikirim juga.
“Ngapain loe Mel, komat-kamit gitu?”
“Baca surat Yasin, biar nggak terjadi apa-apa saat dia membacanya”
Huahahahaha....Emangnya sudah sakratul maut di Yasin-in gitu. Adda ada aja nih si Mel.
Aku masih tertawa saat pesan itu terkirim, bahkan sampai saat aku mengetik tulisan ini.
Beberapa hari kemudian aku mendengar bahwa pada malam ketika pria itu ditolak Mel, dia nggak pulang kehabitatnya tapi malah ikutan balapan. Akibat kekecewaannya kali yah. Atau karena Mel cuma baca surat Yasin doank, iya mungkin karena itu. Seharusnya Mel bacain ayat kursi juga, trus ayat-ayat lainnya buat ngusir hal-hal nggak baik lainnya.... Hahahaha.
“Mel, aku sudah ada di halte nih, kamu ke sini yaah! Ada sesuatu yang ingin kuberikan” isi pesannya. (Kok, sama dengan pesan yang kemarin yaak, Ikh, nggak Kreatip nih cowok...).
“Yaaaa...Mba Fit, dia datang lagi nih” Keluh Mel.
Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing. (Sebenarnya bukan gini bunyinya)
Belum sempat aku menjawab keluhan Mel, handphone Mel berbunyi dengan panggilan dari ID Pria yang berada di luar itu.
“Iii..Nggak sabaran banget sech” Keluh lagi.
Aku cuma tersenyum, “Sudah, dijawab gih panggilannya, kasian anak orang, eh eh trus loe loadspeaker deh biar aku juga dengerin” Pengen tahu gimana sih seorang cowok merayu gebetannya. Hihihi.
“Ya, Hallo....”
“Mel, Kesinii yah!”
“Enng..Ngak akh..Malas. Sudah malam”
“Ayo dong, aku mau ngomongin sesuatu”
“Adduh....Gimana yah. Iya, tapi aku ngajak mbak Fitri ya..!”
“Waaaah....Jangan. Nggak usah ngajak Fitri”
DUG.....Sakit hati aku mendengarnya.... Hehehe.
Singkat cerita dan menghemat halaman, Mel pun keluar menemui mereka.
Lima menit. Sepuluh menit. Mungkin ada tiga puluh menit deh, Mel datang lagi ke kamarku dengan membawa sesuatu ditangannya. Bungkusan gede, lebih gede dari kemarin.
“Makan-makan kita nih” Batinku.
“Mba, Nih” Mel menyodorkan bungkusan itu padaku dengan muka ditekuk sembilan (Bisa bayangin nggak?).
“Serius buat aku semua?”
“Yeee... makan tuh semua, berbahagialah diatas penderitaanku”
Ceilaaaaa.. segitunya....
“Apa...ada apa, apa yang terjadi di dunia luar sana?” tanyaku sambil membuka salah satu cemilan dari dalam bungkusan tadi.
“Dia nembak aku Mba”
What???
Hampir saja makanan dimulutku keluar lagi. Pengen ketawa, tapi takut Mel tersinggung dan betul-betul mengira aku bahagia diatas penderitaannya.
“Waaah, selamat yah. Bertambah lagi deh satu. Trus trus loe tolak lagi yah?”
“Iya lah” Mel memastikan.
“Yaaa....Besok kagak ada kiriman makanan lagi donk”
“Emang gue pikirin” Muka Mel makin ditekuk.
Huahahahaha. Aku tertawa. (Iyalah tertawa, Klo nangis tulisannya, hiks, hiks).
Kemudian handphone Mel berbunyi lagi. Ada pesan dari pria itu lagi. Intinya, berisi kekecewaan hatinya karena ditolak Mel, juga menyatakan harapannya untuk masih bisa mempertimbangkannya karena katanya dia sayaaaaaaaaaaang (kurang panjang nih kayaknya) sama Mel.
“Huh, kenapa sih dengan cowok-cowok ini. Sudah ditolak juga, masih aja ngotot” mengeluh lagi.
“Balas saja pesan itu, gunakan kata-kata yang halus, biar dia nggak tersinggung karena kadang kata-kata itu bisa jadi pedang jadi gunakan dengan bijak” Tumben aku bijak gini bahasanya.
Mel pun mulai mengetik pesan, beberapa kali meminta saranku kata-kata apa yang harus diganti dan yang harus dimasukkan. Dan jadilah sebuah pesan yang berisi kata-kata mutiara hasil karya Mel dan Fitri. (Harus dimasukkan dalam kumpulan kata-kata mutiara tuh).
Tapi Mel masih berpikir untuk mengirimnya. Kirim nggak ya.
Kirim, enggak, kirim, enggak.
Akhirnya dengan membaca surat Yasin sebelumnya, pesan yang sudah dirangkai kurang lebih setengah jam itu dikirim juga.
“Ngapain loe Mel, komat-kamit gitu?”
“Baca surat Yasin, biar nggak terjadi apa-apa saat dia membacanya”
Huahahahaha....Emangnya sudah sakratul maut di Yasin-in gitu. Adda ada aja nih si Mel.
Aku masih tertawa saat pesan itu terkirim, bahkan sampai saat aku mengetik tulisan ini.
Beberapa hari kemudian aku mendengar bahwa pada malam ketika pria itu ditolak Mel, dia nggak pulang kehabitatnya tapi malah ikutan balapan. Akibat kekecewaannya kali yah. Atau karena Mel cuma baca surat Yasin doank, iya mungkin karena itu. Seharusnya Mel bacain ayat kursi juga, trus ayat-ayat lainnya buat ngusir hal-hal nggak baik lainnya.... Hahahaha.
OMG.... kebuka semua deh....
ReplyDeleteada yg tau gag yach...!!!!
ttd...Mel.
Tenang Mel... Kalo di Blognya Vitri dijamin...
ReplyDeleteDijamin banyak yang tahu..
Huahahaha.
Peace yaak