Kesedihan itu dimulai pada suatu hari.......
....................................................
Suatu hari......
....................................................
Suatu hari......
Entah aku harus mensyukurinya atau tidak. Tapi belakangan aku menyesalinya apalagi hari itu berada dalam bulan suci Ramadhan, aku melakukan satu kesalahan. Kesalahan yang amat saya sesali seumur hidupku.
Aku menerima pesan singkat dari Fina. Seperti biasanya, kami memang sering berkomunikasi lewat sms. Membicarakan hal-hal yang biasa saja. Saat itu aku membiarkan sepupuku untuk membalas smsnya. Aku sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Dan aku tidak tahu apa yang dikatakan oleh sepupuku itu kepadanya.
Keesokan harinya aku menerima pesan lagi dari Fina.
“Sayang, aku pulang duluan yah....dach”
?????
Aku bingung bercampur senang. Dia memanggilku sayang. Tapi, kenapa?
Belakangan baru aku tahu bahwa ini karena ulah sepupuku. Aku memang sering cerita kepadanya bahwa aku kagum pada seorang teman kampusku yang bernama Fina. Dan pesan yang dikirimkan kepadanya semalam kepada Fina ternyata berisi pernyataan cinta.
Aku tidak tahu harus berbuat. Adakah yang bisa menolongku?
Aku memang suka kepadanya, tapi aku belum yakin akan perasaanku sendiri. Karena masih terbayang-bayang Lina mantanku yang sekarang berada di Kendari. Saat aku menyadari perasaanku kepada Fina, timbul perasaan lain yang menunda aku untuk berterus terang kepadanya. Aku takut mengecewakannya.
Sehari berlalu, dua hari, seminggu sampai sebulan lebih.
Selama masa itu aku membiarkan dia merasa punya hubungan khusus denganku. Dia sering menelponku. Aku senang. Tapi, bagaimana aku harus menjelaskan bahwa bukan aku yang menyatakan cinta kedanya waktu itu. Meski perasaan itu memang benar adanya.
Selama masa itu tidak ada perhatian yang aku berikan kepadanya selain lewat kata-kata di HP. Di kampus, aku dicuekin dia. Tapi dia nggak pernah nanya kenapa aku seperti itu kepadanya. Dia amat sangat sabar mengahadapi sikapku itu, aku jadi semakin serba salah.
Aku bersikap seperti itu agar dia benci kepadaku. Aku memang patut dibenci olehnya. Aku ingin menyelesaikan hubungan yang tidak dibangun olehku sendiri. Aku benci kepada diriku sendiri yang tidak berani berterus terang. Aku marah kepada sepupuku yang begitu lancang.
Aku nggak tahu harus menjawab apa ketika suatu hari dia bertanya “Rez, kamu serius nggak sama aku”.
Aku terpaksa memarahinya, mengatakan bahwa dia seperti anak kecil jika bertanya seperti itu. Fina....maafkan aku.
Sehari setelah dia menyelesaikan ujian TAnya, aku menerima pesan lagi darinya.
“Terima kasih ya Reza atas sikap dan perbuatanmu selama ini, aku memang bodoh............................................................................................................................, Makasih”
Oh, my God. Apa yang aku takutkan telah terjadi. Dia akhirnya tahu juga. Aku hanya bisa diam dan lagi-lagi tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku telah menyakiti wanita itu. Lagi, aku melakukan itu lagi. Membuat seorang mahkluk Allah tersakiti. Tapi kali ini tidak aku sengaja. Apakah juga akan tercatat sebagai suatu dosa???.
Sampai sekarang aku gak pernah minta maaf langsung padanya. Sebuah sms ini mungkin menurutku merupakan penyataan maaf, tapi entah menurutnya, apa dia memaafkanku.
“Sebenarnya saya nggak mau pacaran karena saya nggak mau menyakiti hati orang, map nah”, Message to: Fina NI
Baj&*#an.....itulah kata-kata yang mungkin ada dalam hatinya saat menerima sms ini.
Iya, Fin. aku memang Baj&*#an, Be&$t.
Sejak saat itu aku nggak berani lagi bertemu dengannya. Padahal dulu itu adalah hal yang sangat aku tunggu setiap hari.
Hari-hari setelah itu aku lalui dengan gelisah, perasaan bersalah yang menggerogoti hatiku tak mampu aku utarakan. Hanya perasaan tak tahu malu yang aku sodorkan jika bertemu atau bertatap muka dengannya. Dia juga sepertinya mulai menghindariku. Hampir setiap hari kami sering berpapasan, dan hampir setiap hari juga dia hanya menunduk jika ada aku di sekitarnya. Tapi dia masih sering tersenyum, berarti peristiwa ini tidak begitu melukainya. Aku harap.
Ketika hari wisuda tiba, aku sangat senang karena dia berhasil menjadi yang terbaik diantara kami. Sisi lain dari rasa senang di hatiku adalah karena aku tidak jadi duduk berdampingan dengannya di kursi ruangan aula itu. Dia diberikan posisi tersendiri sebagai bentuk penghargaan atas prestasi yang diraihnya. Jika tidak seperti itu, maka dia akan duduk disampingku dengan urutan bangku no.2 dan aku no.1. Aku tidak bisa bayangkan betapa hari yang sakral itu akan menjadi lebih sakral seratus kali lipat dengan ketegangan, perasaan malu, mungkin marah dari pihaknya dan entahlah perasaan apa lagi yang ada jika hal itu terjadi.
Ingin rasanya mengajaknya berbicara hari itu untuk sekedar mengucapkan satu kata, “Selamat” atas penghargaan yang diterimanya. Tapi sepertinya aku terblokir untuk itu, aku menyadarinya.
Aku masih sering menanyakan keadaannya kepada Yuni teman terdekat kami. Tapi info yang aku dapatkan dari Yuni tidak seperti yang kuinginkan. Yuni juga bersikap antipati kepadaku. Mungkin karena dia tahu luka hati sahabatnya karena aku.
Hingga suatu malam, Yuni memberitahuku bahwa Fina akan berangkat keluar kota . Dia berangkat malam ini juga. Hatiku bergeming tapi wajahku masih menunjukkan perasaan biasa saja. Tapi tidak ada yang tahu bahwa pikiranku langsung terbang ke bandara.
Kalau tidak ingat aku ini adalah seorang lelaki, ingin rasanya menangis di depan Yuni. Mengutarakan bahwa aku ingin bicara dengan Fina sebelum dia pergi. Tapi demi harga diri, semua itu hanya aku lakukan sesampai aku di rumah. Sendirian. Dia, sudah pergi.
Ingin sekali aku bertemu lagi untuk mengatakan “Fina..................Maafkan aku”.
The End
Ku coba ungkap tabir ini
Kisah antara kau dan aku
Terpisahkan oleh ruang dan waktu
Menyudutkanmu meninggalkanku
Ku merasa tlah kehilangan
Cintamu yang tlah lama hilang
Kau pergi jauh karena salahku
Yang tak pernah menganggap kamu ada
Kisah antara kau dan aku
Terpisahkan oleh ruang dan waktu
Menyudutkanmu meninggalkanku
Ku merasa tlah kehilangan
Cintamu yang tlah lama hilang
Kau pergi jauh karena salahku
Yang tak pernah menganggap kamu ada
(Firman idol_Kehilangan)
* Cerita ini hanya fiktif belaka, khayalan penulis, jika ada kesamaan nama dan kejadian mungkin itu adalah kesengajaan dari penulis (hihihihi...) dan mohon dimaklumi. Penulisnya masih amatiran. ^_^

Seperti ini kah?
ReplyDeleteEntahlah....
ReplyDeleteSekali aku bilang ini cuma imajinasiku saja...