Dimulai dari......
Nilai-nilai para yunior di jurusanku tercinta pada menurun. Dosen-dosen gak berminat dan gak berselera untuk menasehati mereka lagi agar lebih giat kuliahnya. Mereka kan bukan anak SD lagi yang setiap hari harus di wanti-wanti.
”Anak-anak, rajin-rajin ya belajarnya”
“Iya, Ibu Guluu”
Yaa...karena melihat kondisi ini para dosen berinisiatif memfasilitasi para yunior tersebut untuk memperoleh kuliah tambahan. Kuliah tambahan yang bukan diperoleh dari dosen tapi dari kami para seniornya yang sebentar lagi tutup buku dari kampus tercinta. Sebentar lagi bakalan melempar toga. Dimana lagi kalau bukan di pelataran tangga Baruga A.P.Pettarani, tempat yang sudah dibooking kampusku sejak jaman dulu kala dan entah sampai kapan jatuh temponya.
Maka ditunjuklah beberapa dari para senior yang dianggap mampu untuk menyalurkan ilmunya. Of course, namaku dideretan paling atas para senior itu. Weits, nyombong nih. Nggak bermaksud gitu sih, tapi emang kenyataannya. Buat nambah-nambah kalimat di paragraf ini. Nggak apa-apa khan?.
Maka ditunjuklah beberapa dari para senior yang dianggap mampu untuk menyalurkan ilmunya. Of course, namaku dideretan paling atas para senior itu. Weits, nyombong nih. Nggak bermaksud gitu sih, tapi emang kenyataannya. Buat nambah-nambah kalimat di paragraf ini. Nggak apa-apa khan?.
Beberapa nama berikut yang menyusul adalah Fina Nailathul Izza, Andi, Rianna, Nellawani Sangaria, Nevfy Maulana Ferry, dan beberapa orang lagi yang juga mendaftar untuk turut berpartisipasi dalam rangka mencerdaskan anak bangsa, khususnya yunior mereka.
Intinya adalah....
Dalam kegiatan ini yang kemudian kami sebut Tutorial, aku berinteraksi lagi dengan Fina. Ada beberapa mata kuliah yang kami tangani bersama. So, frekuensi interaksi kami pun jadi semakin sering. Pernah dalam satu pertemuan di tutorial itu hanya Fina yang bekerja sendiri, menjelaskan, memberi latihan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari yunior. Sementara aku dan yang lainnya duduk mendengarkannya bercuap-cuap bak seorang dosen profesional yang sedang memberi kuliah dan kami adalah mahasiswanya.
Aku memperhatikan Fina dengan pandangan yang berbeda dari teman-teman lainnya. Kagum dan......Entahlah, sulit dijelaskan.
Di pertemuan tutorial berikutnya, giliran salah seorang teman yang bertugas. Aku dan Fina free. Sementara di ruang sebelah ada seorang yunior yang amat sangat bersemangat mengikuti tutorial ini sedang belajar sendirian.
“Rez, kesebelah yuk!” Fina lalu mengajakku ke ruang sebelah.
Dia senang melihat anak itu sedang mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya, anak itu tidak segan-segan bertanya kepada kami khususnya Fina mengenai hal-hal yang tidak dia ketahui. Aku yang diajak Fina agar bisa membantunya menjawab pertanyaan anak itu menurut dan mengikutinya diiringi suara teman-teman yang dibumbui canda dan sindiran bahwa aku hanya ingin berdua dengan si Fina.
CieeeeeeeY.....
Aku hanya tersenyum, senyum yang biasa aku kembangkan yang membuat hati para wanita luluh, mungkin termasuk Fina juga. Karena dia juga tersenyum.
...............
Pertemuan berikutnya.....
Aku merasa senang karena akan mengikuti NAC bersama dengan beberapa orang teman. Yaa....hitung-hitung tambah pengalaman mengikuti kompetisi kayak gini, apalagi kali ini kompetisinya tingkat nasional. Siapa tau aja kena. Hehehe.....Lotre kali....
Tapi yang paling aku ingat di event kali ini adalah ketika acaranya sudah selesai. Sore hari, sebelum meninggalkan tempat itu, kami sempat kenalan dengan beberapa peserta lain dari berbagai universitas di daerahku. Salah satunya dari Universitas Pare-pare (UnPar). Mahasiswa dari UnPar sangat ramai dan lucu-lucu, maklumlah mungkin baru kali ini mereka ke kota ini..
Setelah anak-anak dari UnPar itu pulang, aku masih saja tinggal di depan gedung itu bersama 3 orang teman. Fina, Andi dan Rianna. Kami menemani Rianna yang saat itu menunggu jemputannya.
Sebenarnya Fina gak wajib sih untuk ikut serta menemani, tapi....dia belum juga beranjak dari tempat itu. Aku senang dia ada di situ. Terus terang, senang sekali. Sekali-kali aku memandangnya dan menoleh lagi kelain arah ketika dia melihatku. Sambil memainkan ponsel aku juga berusaha mengambil gambarnya tanpa dia ketahui.
Hari makin malam tapi jemputan Rianna belum juga datang. Aku menawarkan untuk mengantar Rianna aja sampai halte terdekat. Rianna setuju. Fina juga terlihat beranjak dari tempatnya.
“Eh, kamu juga mau pulang?”, tanyaku tiba-tiba ketika dia beranjak, ”Jangan dulu.....nggak mau saya anterin juga?”
Aku melihat wajahnya menunjukkan raut wajah kaget.
Kenapa nggak dari tadi sih? Mungkin begitu pikirannya.
“Oh, nggak usah....aku punya banyak mobil pribadi yang akan menjemputku” ucapnya bercanda, ”Tuh.....yang warna biru lalu lalang”, Angkot maksudnya.
Pernah juga suatu hari.....
>>Berlanjut ke suatu hari, tapi nggak lama kok besok juga bisa...^_^

Comments
Post a Comment
Jangan keluar.....
sebelum meninggalkan Comment Ya......