Skip to main content

Episode 3: Fina, Maafkan Aku.


Pernah juga suatu hari.....
Hari itu entah tanggal berapa. Beberapa mahasiswa seangkatanku sedang sibuk mempersiapkan bahan seminar mereka. Kami sudah berada di ujung semester perkuliahan di kampus. Dan aku sudah melewati bagian ini beberapa hari yang lalu.
Hari itu, giliran Andi yang sibuk-sibuk mempersiapkan seminar judulnya. Aku sudah berada di dalam ruangan yang nantinya akan digunakan untuk mempresentasikan materinya. Bukan. Bukan karena aku ingin menyemangati Andi, tapi sebenarnya lebih tertarik kepada pembagian kue-kue dan makanan yang sudah mendarah daging bagi mahasiswa seperti kami.
Ini sudah tradisi yang entah sejak kapan_mungkin seribu tahun yang lalu. Ini menurutku, entah menurut mahasiswa jurusanku yang lainnya. Eits, jangan munafik ya, akui saja jika memang iya. 
Aku menunggu
Ah, Lama.
Tapi, gak apa-apa deh. Ada si Fina nih di sampingku. Biarin aja lama. Aku senang bisa bercakap dengannya.
Tapi tampaknya dia mulai merasa bosan. Pemateri dan peserta seminarnya belum juga datang. Aku dan Fina hanya duduk saja bersama beberapa teman yang lainnya. Dan yang pastinya, kami sama-sama menunggu sesuatu yang sama pula. Kue. Yaaa, sambil menyelam minum airlah, sekali mendayung lima sampai empat pulau terlampaui. Maksudnya, kami semua mau makan kue karena sudah dari pagi nggak sarapan sekalian buat mendukung Andi. Eh...terbalik ya...hehehe.
“Keluar aja ah” katanya  tiba-tiba sambil melangkah keluar ruangan yang sudah mulai amat sangat membosankan itu.
“Eh, jangan....kamu mau kemana? di sini aja”, sergahku agar dia membatalkan niatnya itu.
Tapi dia hanya tersenyum lalu ngeloyor pergi......
Ingin aku mengikutinya tapi ada sesuatu perasaan yang menghalangiku.
...........

Kemudian dipenghujung semester akhir.....
Dalam rangka membantu proses penyelesaian Tugas Akhirnya, Fina bersama Yuni_partner yang dia pilih untuk membuat proyek TA_mengikuti pelatihan visual basic.net yang diadakan oleh dosen komputer kami. Dia dan beberapa orang teman yang juga memutuskan untuk mengambil TA perancangan program berbasis software itu akan mengikuti pelatihan ini selama beberapa minggu yang diadakan setiap hari sabtu.
Aku juga ikut.
Kenapa aku juga ikut? TAku kan hanya perhitungan dan tidak ada hubungannya. dengan software itu. Ngapain aku ngikut juga, buang-buang duit aja. Yaa..sekalian nambah-nambah ilmu lah.
Entahlah.
Mungkin karena dia. Fina Nailathul Izza.
Nama yang indah kan..? Wanita setia yang dipenuhi kemuliaan.
Suatu pagi sebelum siang di hari sabtu, kira-kira pukul 10.00. Jam segitu emang biasanya kami sudah selesai pelatihan. Hampir semua peserta sudah pulang, Fina masih duduk di bangku panjang lantai satu jurusanku. Hari itu sepertinya dia menunggu sesuatu.
Satu persatu peserta pelatihan melambaikan tangan kepadanya.
“Daaaaa.....duluan ya Fin”
“Iya...” jawabnya sambil membalas lambaian tangan mereka.
Aku juga seharusnya melambaikan tangan kepadanya lalu pulang, tapi melihat dia sendiri di tempat itu aku jadi ingin menemaninya. Kalau kami semua pulang, dia tinggal sendiri dan pasti merasa bosan. Lalu kuurungkan niat itu. Aku harus menemaninya.
Wajahnya seolah-olah bertanya, “Kenapa belum pulang?”, tapi kata-kata itu tidak diucapkannya. Dia hanya diam dan tersenyum melihat aku melangkah mendekatinya.
Agak salah tingkah juga karena saat itu sejauh mata memandang hanya ada dua manusia di tempat itu. Aku dan dirinya. Kayak judul lagu aja.
Maka terjalinlah percakapan antara kami yang juga menambah catatan kenanganku bersamanya. Cukup lama. Dan membosankan, menurutku. Dan aku melihat hal yang sama dari wajahnya. Karena yang kami perbincangkan adalah masalah penyelesaian kasus-kasus PKA Akuntansi Keuangan. Nggak adakah topik yang lain?. Batinku. Salah aku juga sih. Aku nggak tahu gimana memulai topik yang lain.
Selama waktu itu kami cuma berdua, saudara-saudara. Sampai muncullah pihak ketiga yang biasanya disebut-sebut sebagai s#@%n apabila dua insan berbeda jenis sedang berduaan. Tapi, kali ini yang muncul bukan s#@%n tapi teman Fina, Puput namanya.
Maaf ya Put, tapi kamu kenapa muncul di waktu yang nggak tepat sih. Sambil membawa sesajen yang akan dipersembahkannya kepada para penguji, dia mendekatiku dan Fina. Ih, Syerrrreeem banget sih bahasa gue.

“Klo gitu aku pergi ya... kan sudah ada yang menemanimu”, Aku pamitan dengan kata-kata yang menjelaskan niatku yang sebenarnya berada ditempat itu. Aku harap dia mengerti. Aku memandanginya terus sampai naik ke motorku. Dia juga. Tersenyum kepadaku dan
Bruuuummmm....
Aku pun berlalu.
Kehadiran Puput sungguh terlalu cepat. 
Ooooooooh.
***
          Suatu hari........



>> to be continued lagi yah hingga suatu hari......... 
(Episode 4  =episode akhir yang mengharukan... setidaknya menurutku  ^_^)



Comments

  1. kayak ku kenal ini cerita, pengalaman pribadi toh????

    ReplyDelete
  2. Nggak tahu juga.....
    Apakah memang begitu pengalamannya?
    Saya cuma mengimajinasikan seperti itu...

    Terima kasih sudah berkunjung yah...

    ReplyDelete

Post a Comment

Jangan keluar.....
sebelum meninggalkan Comment Ya......

Popular posts from this blog

FAIRY

Pengen deh jadi angel, Peri, bidadari atau apalah namanya... mereka tampak cantik sekali... Atau seperti putri2 dalam cerita dongeng. 

Bendahara Harus Mahir Pajak (Part 2)

Ehhem.... Singkirkan segala macam tumpukan kertas dari hadapanku... aku mau ngetik, ngisi blog .... mumpung lagi ada inspirasi dan kesempatan.......masa' iya tahun 2017 sudah di Septembernya tapi blogku masih kosonng. HAI HAI HAIIII... jumpa lagi dengan tulisan tak penting dari akuuuu... Assalamu alaikuuuum... Apa kabar? Udah pada nunggu lanjutan "Bendahara Harus Mahir Pajak"" Yaaaaa????  Apa?  ENGGAk??  HIKSss.. BUBAAArrrr... ..............

BENDAHARA HARUS MAHIR PAJAK (PART I)

Assalamualaikum.... Akhir-akhir ini jadi rempong sendiri melayani para bendahara pengeluaran pembantu alias bendahara di puskesmas yang sering bertanya soal pajak. Gimana cara ngitungnya, berapa tarifnya, apa jenis pajaknya, gimana SSP nya?? macam-macam lah pertanyaannya. Jadi bosan ditanya terus, bahkan sudah berulangkali dijelaskan juga masih bertanya lagi.... Saya sih maklum dan coba sabar ajah, mengingat latar belakang pendidikan mereka rata-rata dari ilmu kesehatan. Nah Loh, kok jadi bendahara?? yaa.. mau gimana lagi, kalo tenaga yang disediakan cuma itu. Seharusnya kan pekerjaan seperti itu ditangani oleh ahlinya juga, tapi APBD maupun APBN belum mampu untuk pengadaan pegawai lagi. Ah, kok malah bahas pengadaan pegawai. Back to topik....