Dia menyapaku saat bertemu di tangga jurusan Akuntansi. Sebenarnya saat itu aku belum terlalu mengenal wanita itu. Yang aku tahu adalah dia salah seorang mahasiswi di jurusanku. Dan ketika dia menyapaku tiba-tiba aku merasa senang berbicara dengannya. Biasanya tangga itu dilalui banyak mahasiswa yang naik-turun di jurusanku, kok kali ini sepi ya????. Dia menanyakan apakah aku juga mau mengikuti Basic Accounting Championship di Amik Dipanegara besok?. Aku jawab iya.
Itulah.....
Pertama kali aku bertemu Fina, begitulah seingatku. Tapi dia merasa pertama kali bertemu denganku adalah saat mengikuti Championship di Amik. Tetapi aku mengingatkannya bahwa dia yang pertama kali menyapaku sehari sebelum Championship itu.
Fina, Fina dan Fina
Nama ini hampir ada disetiap hariku satu tahun terakhir ini, bahkan baru aku sadari bahwa yang aku liat dalam pikiranku adalah pertemuan dengannya disiang hari. Begitulah yang aku alami tiap malam sebelum tidur. Apalagi saat aku tahu bahwa aku telah jatuh cinta padanya.
Yaaa, Aku pikir aku memang jatuh cinta kepadanya.
Dhuarrr.....
Bagaimana aku bisa tahu kalau aku jatuh cinta padanya padahal selama ini aku memang gampang tertarik pada wanita. Aku nggak tahu apa itu sebenarnya cinta, lalu kenapa sekarang aku berani bilang kalau aku jatuh cinta pada Fina. Selama ini aku hanya bisa mempermainkan perasaan wanita, karena aku pikir hidup ini hanya permainan. Jadi, yang kemarin-kemarin aku permainkan hanya satu saran buat mereka. Bersabarlah....... hehehehe.
Pertanyaan berikutnya, apakah kali ini aku juga hanya ingin mempermainkan Fina?. Aku harap tidak.
Aku mencari-cari alasan untuk bisa bertemu dia lagi. Aku lalu mengambil buku paket Akuntansi Dasar dan menemukan soal di dalamnya yang bisa membantuku. Ya, aku akan menanyakan soal itu saja.
Saat itu dia sedang mengerjakan sesuatu di lab komputer bersama beberapa orang temannya, lalu aku tiba-tiba masuk ke tempatnya. Pura-pura mencarinya, padahal aku sudah tahu posisinya. Dia menoleh karena merasa ada seseorang yang menyebut namanya.
Aku melihat wajahnya agak heran dan kaget melihatku. Mungkin dia berfikir ada perlu apa aku mencarinya.
“Fin, in aku mau nanya sesuatu?”, tanyaku memulai pembicaraan.
“Iya, nanya apa?”, jawabnya.
“Mengenai soal ini, gimana ya? bla,bla,bla......”, aku mulai berlagak bodoh di depannya. Menjadi seorang lelaki yang berpura-pura, dan aku sudah lupa kapan terkahir kali aku bertingkah seperti ini.
Mungkin dia bertanya-tanya mengapa aku bertanya soal segampang ini kepadanya karena dengan wajah terheran-heran dia menjelaskan mengenai hal yang kutanyakan. Bla, bla, bla.......
Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Tapi aku bisa merasakan kalau dia agak kikuk ketika berbicara. Sama seperti aku.
Lalu berikutnya kamipun melalui hari-hari kuliah seperti biasanya, selama itu aku jarang melihatnya. Ketika aku sampai di kampus, dia tentu sudah pulang karena aku mengambil kelas sore sedangkan dia kelas pagi. Dan akhirnya kami sampai di semester akhir perkuliahan, yang menorahkan banyak pertemuan dengannya.
Dimulai dari......
>>To be continued.... Nantikan besok yah...
Itulah.....
Pertama kali aku bertemu Fina, begitulah seingatku. Tapi dia merasa pertama kali bertemu denganku adalah saat mengikuti Championship di Amik. Tetapi aku mengingatkannya bahwa dia yang pertama kali menyapaku sehari sebelum Championship itu.
Fina, Fina dan Fina
Nama ini hampir ada disetiap hariku satu tahun terakhir ini, bahkan baru aku sadari bahwa yang aku liat dalam pikiranku adalah pertemuan dengannya disiang hari. Begitulah yang aku alami tiap malam sebelum tidur. Apalagi saat aku tahu bahwa aku telah jatuh cinta padanya.
Yaaa, Aku pikir aku memang jatuh cinta kepadanya.
Dhuarrr.....
Bagaimana aku bisa tahu kalau aku jatuh cinta padanya padahal selama ini aku memang gampang tertarik pada wanita. Aku nggak tahu apa itu sebenarnya cinta, lalu kenapa sekarang aku berani bilang kalau aku jatuh cinta pada Fina. Selama ini aku hanya bisa mempermainkan perasaan wanita, karena aku pikir hidup ini hanya permainan. Jadi, yang kemarin-kemarin aku permainkan hanya satu saran buat mereka. Bersabarlah....... hehehehe.
Pertanyaan berikutnya, apakah kali ini aku juga hanya ingin mempermainkan Fina?. Aku harap tidak.
Aku mencari-cari alasan untuk bisa bertemu dia lagi. Aku lalu mengambil buku paket Akuntansi Dasar dan menemukan soal di dalamnya yang bisa membantuku. Ya, aku akan menanyakan soal itu saja.
Saat itu dia sedang mengerjakan sesuatu di lab komputer bersama beberapa orang temannya, lalu aku tiba-tiba masuk ke tempatnya. Pura-pura mencarinya, padahal aku sudah tahu posisinya. Dia menoleh karena merasa ada seseorang yang menyebut namanya.
Aku melihat wajahnya agak heran dan kaget melihatku. Mungkin dia berfikir ada perlu apa aku mencarinya.
“Fin, in aku mau nanya sesuatu?”, tanyaku memulai pembicaraan.
“Iya, nanya apa?”, jawabnya.
“Mengenai soal ini, gimana ya? bla,bla,bla......”, aku mulai berlagak bodoh di depannya. Menjadi seorang lelaki yang berpura-pura, dan aku sudah lupa kapan terkahir kali aku bertingkah seperti ini.
Mungkin dia bertanya-tanya mengapa aku bertanya soal segampang ini kepadanya karena dengan wajah terheran-heran dia menjelaskan mengenai hal yang kutanyakan. Bla, bla, bla.......
Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Tapi aku bisa merasakan kalau dia agak kikuk ketika berbicara. Sama seperti aku.
Lalu berikutnya kamipun melalui hari-hari kuliah seperti biasanya, selama itu aku jarang melihatnya. Ketika aku sampai di kampus, dia tentu sudah pulang karena aku mengambil kelas sore sedangkan dia kelas pagi. Dan akhirnya kami sampai di semester akhir perkuliahan, yang menorahkan banyak pertemuan dengannya.
Dimulai dari......
>>To be continued.... Nantikan besok yah...
hm... Fina??? Bukan ji singkatan itu??? hehehe...!!!
ReplyDeleteFina itu memang singkatan... tapi nama panjangnya Fina Nailatul Izzah. :-P
ReplyDelete