Pagi-pagi Ai sudah berangkat ke kampus, ada jadwal kuliah jam 08.00. Ai harus presentase tugas mata kuliahnya. Semua yang dibutuhkan sudah disiapkan setelah shalat subuh tadi. Setelah berdoa, semoga hari ini semuanya berjalan lancar, Ai segera keluar dan mengunci kamarnya. Berjalan melewati lorong menuju tempat angkot mangkal. Dalam hati masih was-was karena bahan presentase belum dikuasai semua.
Sebuah angkot yang ditunggu-tunggu sudah datang, Ai segera naik. Angkot itu lalu berangkat. Tumben jalannya cepat, biasanya juga nunggu penumpangnya penuh dulu. Baguslah, batin Ai.
Suara musik mengalun dengan keras dari tape abang angkot, menemani perjalanan Ai dengan lagu-lagu yang cukup bagus terdengar dan mampu menggoyangkan jari jempol kaki Ai. Untung saja kaos kaki menutupi kaki yang jempolnya goyang-goyang itu dan juga penumpang masih sepi, jadi Ai masih bebas mengekspresikan lagu yang didengarnya.
Kemudian seorang wanita muda naik. Lebih muda sari Ai sepertinya. Dengan HP ditangan yang diletakkan disamping telinga kanannya. Sambil tetap berbicara dengan HPnya wanita itu duduk didepan Ai. Ia tampak gelisah, sepertinya terganggu dengan suara musik yang dari tadi mengalun dengan suara keras.
“Cowok….musiknya bisa dikecilin nggak, saya lagi nelpon nih, nggak kedengaran” Akhinya ia meminta sang supir yang memang masih muda itu untuk mengurangi volume musiknya. Huh, jempol Ai berhenti bergoyang.
“Yaaa….Halllo.., kenapa tadi?” busyet dah, suara wanita itu keras banget. Ia seperti setengah berteriak. Padahal bicara dengan HPnya sudah nempel gitu dimulut ame telinga. Sampe-sampe Ai juga bisa mendengar dengan jelas suara lawan bicaranya.
“Gimana, malam minggu ada acara apa?” suara dari seberang sana
Deg..
Ai tiba-tiba seperti mendengar suara yang amat dikenalnya. Aaaah..bukan. pasti bukan dia.
“Aku nggak ada acara sih, kenapa..mau ngajak aku jalan?” jawab wanita itu
“Kalo mau sih. Saya jemput yah!”
“Iiiiikh…Boleh lah. Ditempat biasa yah” Wanita itu menjawab dengan manja
Bla bla bla
Ai tampak kurang nyaman dengan pembicaraan wanita itu, rupanya wanita itu sedang berbicara dengan pacarnya, yaa semacam itulah. Habisnya dari tadi suaranya terdengar manja dan dilembut-lembutin. Padahal waktu nyuruh pak supir ngecilin suara tapenya tadi suaranya terdengar garang. Sang supir juga tampaknya terganggu, ia berkali-kali memandangi wanita itu lewat kaca spion didepannya dengan pandangan sinis. “Huh, tak pikir nerima telepon penting” begitu barangkali pikiran cowok_supir itu.
Ai masih memikirkan suara yang masih didengarnya itu. Suara, intonasi dan cara tertawanya…semuanya mirip sekali. Ai teringat Reza lagi. Kembali dia merasakan sesuatu mengetuk dibalik kelopak matanya, hendak mengalir keluar. Lalu cepat-cepat dikuasainya agar tidak menangis ditempat seperti itu. Ia lalu mengambil materi presentasenya. Lebih baik mengulangi apa yang telah dipelajarinya semalam. Acuhkan suara-suara itu.
Angkot terus melaju, seperti sengaja membawa Ai dan wanita itu hanya berdua didalamnya. Eh, bertiga ding..dengan supirnya.
***
Akhirnya presentase Ai pagi itu berjalan lancar dan bisa selesai dengan baik. Meski awalnya sempat hampir dibatalkan karena pikiran Ai kemana-mana. Tapi Ai harus tetap menyelesaikan tugas itu, sudah gilirannya dan teman-teman yang lain juga sudah melewati bagian masing-masing.
“Waaah….Englishnya sudah bagus nih. Excelent. Tadi presentasenya lancar banget, sudah seperti saleswoman di Inggris yang sedang menjajakan barang dagangnya, hehehehe” Reina mengomentari penampilan Ai barusan.
“Bagus yah. Syukurlah, aku sudah setengah mati tauuu ngapalin teks dalam bahasa inggris itu. Lu tahu sendiri kan English aku cekak. Untung ingatan ini masih tajam, semua yang saya ucapin tadi tuh kagak ada yang aku ngerti sama sekali….xixixixi”
“Haaah, semua yang lu ucapin tadi, selama….selama hampir 2 jam itu hasil hafalan??” Reina sampe membuka mulutnya, entah heran atau kagum
“Wooi, nggak usah terlalu lebar tu mulut, si lalat masuk baru tahu rasa”
Reina lalu kembali ke ekspresi normalnya
“Iya Ren, bayangin, aku sudah mulai ngapalinnya kemarin pagi sejak matahari pagi mencubit pipiku sampeeeee malam tiba ketika sang rembulan sudah menguap juga…..hihi, tuh kan saya jadi setress karenanya”
“Hahhahha…hebat, Ai sayang. Berapa lembar sih?” tanyanya lagi masih nggak percaya
“Nih, hitung aja sendiri” Ai memberikan lembaran-lembaran yang sudah lusuh karena sudah dibolak-balik selama 24 jam.
“Wuiiiih, sepuluh…lima belas….du- dua puluh…, Dua puluh halaman, WOW”
“Eitss…jangan nganga lagi. Tak masukin kertas itu, mau. Aromanya nggak enak say” Ai mencegah Reina untuk terkagum lagi. Biasssa aja kale. Hehhe
“Hehhe…Ai sayang gitu loch, temennya Reina, ya kan ..hebat, demi nilai A yah?” Reina mulai menggoda
“Iya donk, emang kamu nggak mau? Kalo aku, nggak mau dapat nilai C lagi buat bahasa Inggris, makanya aku berjuang sangat tuh untuk presentase ini, minimal nilai B lah. Gangguan kecil tadi pagi mah, huh, keciiiil”
“Gangguan? Gangguan apa Ai?” Opps, Ai salah ucap.
“Enggak, sudah lewat kok. Lupakan saja . eh, ke kantin yuk”
“Asyiiik, Traktir yaaaaak”
Ai dan Reina lalu segera berlalu dari ruangan menuju kantin. Ai sudah sangat takut mengingat hal tak penting tadi pagi dan dibahas bersama Reina. Lebih baik segera merayakan keberhasilan presentasenya. Alhamdulillah, tak lupa Ai bersyukur, doanya sebelum keluar tadi pagi telah dikabulkan.
***

Comments
Post a Comment
Jangan keluar.....
sebelum meninggalkan Comment Ya......