“Kak Ai, jadikan aku kucingmu”
Kata-kata dari pria di kampus pagi itu mengagetkan Ai, sama sekali Ai tidak mengerti apa maksudnya. “Jadikan kucing”…??? Hah? Ada-ada aja. Kata-kata itu terus mengiang di kepala Ai sampai akhir jam kuliah.
***
Ai melangkahkan kakinya menuju gerbang kampus sore itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 lewat 45 menit. Terburu-buru ia melangkah karena harus mengejar waktu menuju tempat aktivitas berikutnya. Ai punya jadwal ngajar privat lagi sore itu, tempatnya juga lumayan jauh, kira-kira butuh waktu 45 menit dan ia harus sampai di sana pukul 16.00. Berarti tinggal 15 menit. Waaaah, bakalan telat, pasti telat. Ai mempercepat langkahnya sampai tidak memperhatikan sesosok makhluk di hadapannya, dan…
BRUUUK
Ia menabraknya. Seorang lelaki berwajah innocent masih berdiri kokoh (kayak motto semen yah?) di depannya meski telah di tabrak oleh tubuh bongsor Ai.
“Kamu lagi….” Masih setengah kaget Ai memandang sosok dihadapannya itu. Sosok yang tadi pagi mengucapkan kata-kata yang tidak dipahami Ai. “Maaf ya, maaf, hmmn….bisa minggir nggak…Aku buru-buru nih”
“Tunggu. Kak Ai mau kemana?” Tanya pria itu
Dan Ai berlalu pura-pura tidak mendengarkan anak itu. Segera naik ke mikrolet yang sudah lama menunggu di depan gerbang. “Ayo dong pak, cepetan berangkat” batin Ai
“Kak, Kak Ai…Mau kemana sih…” Yaaaa ampuuuun, anak itu masih mengikuti dengan pertanyaan yang sama, berharap kali ini dapat jawaban dari Ai. Kali ini dia juga sudah bersama kuda besinya.
“Mau ke tempat privat”
“Di mana, Kak?” lalu merapatkan kendaraannya ke mikrolet , mendekati jendela mobil dimana Ai bertengger (burung kaliiii…bertengger…). Tempat dimana Ai mengambil posisi duduk maksudnya.
“Di jalan XXX” Duuh ni anak cerewet amat sih, mau tauuu aja urusan orang.
“Sini aku anterin kak Ai…kebetulan aku juga mau jalan ke arah situ kok” dia tersenyum. Senyum yang diusahakan untuk terlihat manis dihadapan Ai. Dan Ai memang merasakan manisnya senyum pria itu dan menusuk hingga ke jantung hatinya…Syeeeeeet dah.
Ai diam-diam kegirangan, sudah dari tadi sebenarnya ia mengharapkan seseorang untuk menolongnya. Oh, God….Terima kasih malaikat penolong dariMu telah datang.
“Hmmn, Gak usah. Terima kasih, ntar merepotkan kamu” Ai pura2 menolak, padahal dalam hatinya sudah jejeritan “Mau…Ayo segera berangkat”
“Nggak merepotkan kok. Ayolah kak, Kelihatannya kak Ai buru-buru, kalo melihat mikrolet ini kayaknya belum ada tanda-tanda akan berangkat, nanti terlambat loh” Pria itu masih menawarkan bantuannya.
“Tidak apa, dari pada merepotkan kamu, aku juga sudah biasa naik mikrolet kok, Insya Allah bisa nyampe meski telat dikit sih” masih menolak, sekali lagi. Sekali lagi pria itu masih menawarkan bantuan Ai pasti tidak pura-pura menolak lagi. Susah juga kalau jadi orang yang gengsian kayak Ai, jaim dan selalu berlagak tidak membutuhkan bantuan. Padahal sebenarnya sudah pengen banget.
“Ya udah…kalo gitu kak Ai hati-hati yah. Aku duluan ya kak, Assalamualaikum” Pria itu berlalu.
“Wa……Waalaikumsalam….” Yaaaah, dia pergi. Ai mematung. Nyesel.
Diliriknya jam di handphone, HP butut yang dikelilingi dengan karet gelang untuk menahan penutup baterai biar nggak jatuh. Pukul 15.50. Hiks 10 menit lagi. Oh God, Malaikat penolong yang kedua mana? Ai janji akan langsung menerima pemberianMu….hu hu huks…. Makanya nggak usah sok menolak. Makan tuh jaim berkuah gengsi. Nggak enak. Hihihi. Dalam hati Ai ngumpat diri sendiri, dodoooool…dodol.
Comments
Post a Comment
Jangan keluar.....
sebelum meninggalkan Comment Ya......