Skip to main content

ICUL (By: Sastrasukabumi)

Arya mengambil anak kunci di saku celananya. Setelah itu memasukkannya
ke lubang kunci di daun pintu. Ditekannya handel pintu itu. Lantas ia
mendorong daun pintu rumah kost kami. Dan pintu itu terbuka lebar. Kami
pun bergerombol masuk ke dalam ruangan yang hanya terdapat satu sofa,
satu meja dan pesawat televisi itu.

Ucok langsug menghidupkan layar kaca 21 inch. Sedang aku pergi ke dapur.
Membuat tiga cangkir kopi hitam untuk kami bertiga. Dan setelah jadi
benda kesukaan kami itu aku bawa ke ruang tamu. Di sana Ucok dan Arya
telah asyik memelototi layar kaca itu.

“Gue yakin Inggris akan menang. Kejayaan Brasil telah lewat,” Ucok
berkomentar tentang pertandingan sepakbola yang akan kami tonton.

“Betul, Brasil tidak ada apa-apanya lagi. Sekarang giliran Inggris,”
tambahku menguatkan pertandingan perempat final Piala Dunia 2002 yang
diadakan di Shuzuka Jepang itu.

“Belum tentu. Lihat aja, sejak babak penyisihan Brasil sudah bagus.
Semua dilibasnya,” Arya tidak mau kalah.

Dan kami bersemangat mengomentari pertandingan yang banyak disesalkan
oleh beberapa komentator itu. Menurut mereka seharusnya kesebelasan
Brasil dan Inggris itu bertemu di partai final bukan perempat final.

“Ngomong-ngomong Icul kemana sih? Biasanya ia yang semangat jika melihat
pertandingan sepakbola,” tanyaku di tengah menonton liukan David Beckahm
yang dihadang oleh trio R: Ronaldo, Rivaldo dan Ronaldinho.

“Iya, yah. Biasanya ia yang tidak pernah melewatkan pertandingan bola,”
Ucok menambahkan.

Di tengah seru-serunya kami menonton itu pintu ruangan tengah terbuka
secara kasar. Kami bertiga meoleh. Icul muncul dari beranda depan.
Wajahnya masam. Ia masuk tanpa menyapa kami. Apalagi ke arah televisi
yang sedang menyiarkan pertandingan secara live dari Jepang itu. Ia
malah masuk ke dalam kamarnya. Kami saling berpandangan.

“Udah nggak usah dipikirin. Biasa kiriman dari kampung telat,” Arya
memecah kebisuan diantara kami yang terperangah dengan kelakuannya yang
tidak biasa itu.

“Betul, ditambah baru diputus oleh Irna,” aku menambahkan sambil
menenggak kopi hitam favorit kami. Perhatian kami kembali tertuju pada
tendangan dan gocekan Ronaldo CS.

Di saat seperti itu, aku beranjak dari kursi yang aku duduki. Aku menuju
ke dapur. Aku kembali sambil membawa air putih. Iseng-iseng sambil
lewat, aku mendekati pintu kamar Icul. Aku mendekatkan telinga pada daun
pintu. Tak ada suara apapun dari dalam. Mungkin karena suara teriakan
dari Ucok dan Arya, menghabiskan seluruh syarafku untuk dapat mendengar
suara dari dalam. Aku pun mengintip melalui lubang kunci. Aku melihat
dengan jelas. Aku melihat melalui celah kecil itu Icul sedang duduk di
atas tempat tidur. Ia sedang membubuhkan sesuatu pada segelas air di
atas meja belajarnya. Ia mengaduk-aduk serbuk dalam air. Setelah itu
tanpa ragu ia meminumnya. Melihat itu aku terkejut. Pikiran buruk
langsung menerjang otakku. Aku mengingat bahwa banyak beban hidup yang
ia tanggung akhir-akhir ini. Aku langsung menghampiri Arya dan Ucok. Aku
ceritakan apa yang aku lihat pada mereka.

“Minum obat kali,” Ucok cuek.

“Tidak mungkin. Tadi pagi ia sehat-sehat saja,” Arya menguatkan.

“Lantas?”

“Kalian tidak ada pikiran buruk?”

“Apa?” Ucok dan Arya bertanya serempak.

“Ia mau bunuh diri. Ingat ia sedang ada masalah. Kiriman dari orang
tuanya telat, diputus pacar.”

Kami terdiam. David Bekcham menghilang dari pikiran kami. Kami takut apa
yang aku katakan itu betul. Kami pun memutuskan untuk menghampiri kamar
Icul. Sebelum mengetuk pintu kami melihat Icul sedang tergeletak di atas
tempat tidurnya.

Kami mulai memanggil-manggil Icul sambil mengedor-gedor pintu. Tapi ia
tidak membukakan juga.

“Icul, Icul,” kami terus memanggil-manggilnya.

Kami khawatir sekali. Ia diam tidak bergerak. Ia telah mati, pikir
burukku langsung menerjang syaraf otak. Kami pun menggedor dengan keras.
Tapi akhirnya pintu kamar itu terbuka. Icul berdiri di depan pintu.
Wajahnya muram. Melihatnya berdiri kami sedikit gembira.

“Icul apa yang kamu minum?” Aku bertanya padanya. Ia menggeleng. Tidak
menjawab. Kami bergantian bertanya lagi. Tapi jawaban yang ia berikan
adalah gelengan kepala. Aku mendekati gelas yang tergeletak di atas
meja. Cairan yang ada di dalamnya telah habis. Aku mencium gelas itu.
Tak ada aroma apa pun.

“Icul katakan apa yang kamu minum,” kataku sambil mendekat.

“Kamu mau bunuh diri?” Ia menggeleng.

“Bunuh diri itu tidak baik. Menurut agama begitu juga menurut norma yang
ada di masyarakat kita. Cewek itu banyak. Kalau Irna meninggalkan kamu
masih banyak Irna-Irna yang lain yang lebih baik darinya. Kamu bisa
mendapatkannnya. Kamu layak mendapatkan yang lebih dari dia. Kalau kamu
perlu uang untuk bayar SPP, bilang saja. Aku masih punya uang kok! Kamu
boleh pinjam kalau kamu mau,” Arya menceramahinya panjang lebar.

“Kita ini satu kost. Harus saling menolong. Saling terbuka. Kamu tidak
boleh menyimpan masalah sendiri. Hal itu tidak baik. Apalagi sampai mau
bunuh diri,” Ucok menambakan.

Icul tetap membisu.

“Sekarang apa yang kamu minum?” meski ia telah berdiri di depan kami,
kami tetap khawatir ia melakukan tindakan yang sangat tidak baik itu.
Karena itu kami menanyakan terus kepadanya apa yang dimimumnya.

Karena ia tidak juga menjawab apa yang kami tanyakan, kami pun jengkel.
Kami mencari bungkus serbuk yang dibubuhkan pada air putih dalam
gelasnya. Kami tetap takut ia bunuh diri. Kami mulai ngorek laci meja
belajarnya. Kami mengeluarkan pensil, VCD porno, penghapus, bahkan
sisir. Kami mengacak-acaknya.

Aku mendekati tempat sampah dekat komputer. Aku membalikkan tempat
sampah plastik itu. Barang-barang terserak di atas lantai. Aku mulai
mengais-ngais. Aku mengangkat seuntai teh celup, plastik pembungkus mie
instant, sobekan kertas yang diremas-remas.

Aku membuka remasan kertas itu. Aku membacanya:

/“…aku lebih memilih dia. Maaf, ia telah menjanjikan masa depan
dibandingkan kamu….”/

Aku buang kertas yang aku prediksi itu adalah surat dari Irna. Aku
mengambil remasan kertas yang lain. Tulisan tangan acak-acakkan terpahat
di atasnya.

/“…nanda, panen cengkeh kita telah gagal. Hama menyerang sangat hebat.
Uang tabungan bapak yang sedianya akan bapak kirimkan untuk nanda, bapak
gunakan dulu untuk membasmi hama-hama itu. Kalau hal itu tidak dapat
diatasi mungkin bapak harus memperbaharui tanaman cengkeh kita. Dan
tampaknya baru beberapa bulan ke depan bapak dapat mengirimi nanda uang
kembali….”/

Kembali kertas memuakkan itu aku buang. Tapi hingga tandas tempat sampah
itu, aku tidak menemukan tanda-tanda mencurigakan. Tidak ada yang tahu
apa yang diminumnya. Kami mulai kesal. Kami menanyai lagi cairan yang
diminumnya. Icul tetap bungkam.

Di tengah situasi seperti itu, Arya melihat remasan kertas kecil di
dekat lemari, terlindung oleh sepasang sepatu. Ia mendekatinya. Ia
mengambilnya. Ia memperhatikannya. Ia tersenyum. Lantas memberikan
kertas itu padaku. Aku menerimanya. Aku melihat kertas itu. Aku pun
tersenyum ketika melihat kertas pembungkus obat cacing itu.

Ah, ternyata Icul cacingan. Ia minum obat cacing!

??????!!!!!!!!!@@#$%%^^&**(())

Comments

Popular posts from this blog

FAIRY

Pengen deh jadi angel, Peri, bidadari atau apalah namanya... mereka tampak cantik sekali... Atau seperti putri2 dalam cerita dongeng. 

Bendahara Harus Mahir Pajak (Part 2)

Ehhem.... Singkirkan segala macam tumpukan kertas dari hadapanku... aku mau ngetik, ngisi blog .... mumpung lagi ada inspirasi dan kesempatan.......masa' iya tahun 2017 sudah di Septembernya tapi blogku masih kosonng. HAI HAI HAIIII... jumpa lagi dengan tulisan tak penting dari akuuuu... Assalamu alaikuuuum... Apa kabar? Udah pada nunggu lanjutan "Bendahara Harus Mahir Pajak"" Yaaaaa????  Apa?  ENGGAk??  HIKSss.. BUBAAArrrr... ..............

BENDAHARA HARUS MAHIR PAJAK (PART I)

Assalamualaikum.... Akhir-akhir ini jadi rempong sendiri melayani para bendahara pengeluaran pembantu alias bendahara di puskesmas yang sering bertanya soal pajak. Gimana cara ngitungnya, berapa tarifnya, apa jenis pajaknya, gimana SSP nya?? macam-macam lah pertanyaannya. Jadi bosan ditanya terus, bahkan sudah berulangkali dijelaskan juga masih bertanya lagi.... Saya sih maklum dan coba sabar ajah, mengingat latar belakang pendidikan mereka rata-rata dari ilmu kesehatan. Nah Loh, kok jadi bendahara?? yaa.. mau gimana lagi, kalo tenaga yang disediakan cuma itu. Seharusnya kan pekerjaan seperti itu ditangani oleh ahlinya juga, tapi APBD maupun APBN belum mampu untuk pengadaan pegawai lagi. Ah, kok malah bahas pengadaan pegawai. Back to topik....