"Gus, berenang yuk ke tengah !”, kataku seraya terus menariknya tanpa memberinya kesempatan untuk menolak.
Ombak menyambut kedatangan kami sore itu. Suaranya seakan menantang aku untuk segera menyelaminya. Bui-bui seakan bersorak, “Ayo Kasih, kemarilah, sudah lama kita tidak bertemu. Ajak orang itu, ajak dia dan tunjukkan bahwa kamu masih menyayanginya”. Suara-suara ombak dan angin itu terus menantangku. Biasanya aku tidak akan tergoda oleh bujuk rayuan ombak, tapi kali ini aku tertarik untuk melakukannya.
Sudah lama aku tidak ke tempat ini. Tanjung Bagas_Bagus dan Kasih. Begitu aku menamainya. Dulu setiap kali ke tempat ini bersama Bagus, kami selalu melewatkan waktu sore hari dengan berjalan di sepanjang bibir ombak yang tadi memanggilku. Saat itu tantangan seperti ini juga sering aku dengarkan tapi aku tidak pernah memperdulikannya karena asyik bercengkrama dengan Bagus.
Hingga beberapa bulan yang lalu dia pergi meninggalkanku. Aku tidak pernah datang lagi ke Tanjung Bagas.
Hari ini aku bertemu kembali dengannya. Kali ini kami tidak berdua, beberapa teman lainnya juga bersama kami. Pertemuan kali ini bukan untuk bernostalgia berdua dengannya, tapi acara reunian yang diadakan Ikatan Alumni kampus kami. Sekitar 100 orang bersama kami saat ini.
Aku memberanikan diri untuk memulai percakapan dengan Bagus saat pertemuan kembali tadi pagi. Dan mengajaknya berjalan-jalan lagi seperti dulu di sore ini di tempat kami biasanya. Aku akan mencoba menerima tantangan dari sang ombak, kali ini.
Dia mengikutiku, tangannya tidak dilepaskan. Dia berpegangan semakin erat malah. Aku merasakannya. Senang sekali rasanya dia memegang tanganku seperti itu. Dia pasti juga senang bertemu lagi denganku, sama seperiku. Dia pasti senang karena akhirnya aku mengajaknya menerima tantangan ombak seperti yang dulu sering aku ceritakan padanya.
Kami mulai berjalan menembus air laut Tanjung Bagas. Masih terasa panas meski sudah sore hari. Mungkin karena terik matahari siang tadi suhunya terlalu tinggi. Tapi setelah menyelam ke dalamnya, rasanya berubah. Hangat dan asin, tentunya. Sedikit air laut sempat masuk ke leherku, tapi rasa asinnya agak berbeda. Asin-asin bahagia...(emang ada rasa seperti itu??????) hehehe.
Kami berenang, tujuannya hingga agak ke tengah laut, hingga mencapai tanda pembatas maksimal kedalaman diperbolehkan berenang bagi para pengunjung. Asyik rasanya, berenang sambil berpegangan tangan dengannya. Berenang menembus air laut yang sudah lama mengundangku. Sang ombak pasti senang sekarang. Sama seperti aku.
Kami hampir sampai. Tanda pembatas itu harus aku raih untuk memenangkan tantangan ini. Mungkin kami sudah berada pada kedalaman hampir 2 meter. Kakiku sudah tidak bisa merasakan pasir di dasar laut ketika aku coba berdiri tegak. Kepalaku kemudian tidak bisa melihat langit biru di atas sana ketika aku coba menyentuh dasar laut dengan kakiku. Tanganku.......eh, tanganku tidak lagi merasakan pegangan erat dari Bagus.
Kami tidak berpegangan lagi. Tapi, kemana dia?.
Aku menyembulkan kepalaku ke udara, mencarinya, “Gus,...kamu dimana?” lalu berharap dia muncul dan menjawab, “aku dihatimuuuuuu” seperti iklan saja.
Ternyata dia ada di belakang, masih jauh tertinggal olehku. Ah, payah. Ternyata aku lebih jago meluncur daripada dia. Itu baru aku tahu karena baru sekarang kami melakukannya. Aku menunggunya sambil terus mengayungkan kedua tangan dan kakiku agar tetap mengapung. Tapi....
Dia nggak sampe-sampe juga kemari. Eh, Bagus....kenapa mencak-mencak begitu.
“Gus, kamu kenapa?, jangan bercanda”, teriakku sambil mengayuh kemudi_berenang_ke arahnya. Oh, My God.
Dia......sepertinya butuh pertolongan. Dia menganyung-ayungkan tangannya seperti hendak meraih sesuatu diudara. Lalu kemudian aku tak melihat tangannya lagi. Bagus tenggelam. Aku mencarinya. Itu dia. Segera ketarik dan kurasakan dia tidak bergerak lagi. Sepertinya dia menelan banyak air.
Duuuh Bagus, kalau kehausan jangan minum di sini donk. Sudah tahu rasanya asin, pasti nggak enak. Tuh kan kamunya jadi nggak bergerak gini. Pikiran anehku mulai menguasaiku.
Aku panik. A-aku, bingung. Ditengah laut begini. Nggak ada orang lain. Gimana nih?.
Sekuat tenaga aku berenang kembali ke pantai sambil menarik Bagus. Mudah-mudahan dia nggak apa-apa. Dia kenapa sih, kok tiba-tiba kelelep begitu. Dan pikiranku masih nggak karuan saat itu. Aku merasa lelah mengayuhkan tangan dan kakiku. Duuuh, jauh sekali pantai itu, ternyata seudah sejauh ini saya berenang. Aku harus kuat. Sedikit lagi, aku hampir sampai. Aku harus segera menyelamatkan Bagus. Karena ini semua salahku.
Phuuf....akhirnya.
Sampai juga. Segera kutarik tubuh Bagus ke tempat yang aman. Kulihat sekeliling, nggak ada orang. Pada kemana sih?. Aku juga yang salah mengajak Bagus ke tempat ini yang memang selalu sepi. Tempat favorit kami dulu.
Untung saja aku pernah mengikuti pelatihan P3K waktu PMR di SMA dulu. Jadi sedikit banyak aku tahulah mengenai pertolongan pertama untuk kasus seperti ini. Aku ingat. Yang pertama terpikir adalah memberikan napas buatan...Mouth to mouth...He he he. Bukan.
Yang saya dapat di PMR, Si Korban itu dibungkukkan ke depan. Posisi si penolong di belakang korban, 1 tangan penolong di perut korban, setelah korban agak dibungkukkan ke depan, 1 tangan si penolong yg lain menepuk-nepuk di punggung si korban untuk mengeluarkan air yg masuk di paru2nya.
Bisa juga si korban dibaringkan di tempat yang datar, kepalanya dimiringkan, dan si penolong posisinya berlutut di atas si korban. 2 tangan si penolong ditumpuk tepat 3 jari di bawah pertemuan tulang iga si korban lalu tekan ke atas sampai air dlm paru2 korban keluar.
Jika airnya nggak keluar-keluar juga. Jalan terakhir lakukan bantuan nafas, untuk memancing kembali nafas korban.
Aaakkkhhh. Lama. Terlalu lama aku berpikir mengingat kembali semua teori-teori itu. Ternyata prakteknya sangat sulit, dan itu yang kuhadapi sekarang.
Coba dulu, cara yang kedua. Hmmmn....nggak bisa.....rasanya mau menagis. Hiks....Bagus, ayo dong, kok gini sih.
Coba lagi, nggak bisa juga.
Ulangi lagi, belum bisa
Ya udah. langsung cara ketiga aja. Huuuuf, tarik nafas.............
Sekali lagi. Huuuuuuf................
“Uhuk, uhuk”, akhirnya, air itu keluar. Hmn, asin.
Aku sempat mencicipinya.
“Gus, Bagus” aku mencoba memanggilnya.
Aku ingin berucap, “Jangan sadar dulu Gus, belum yang ketiga nih” tapi itu Cuma di khayalanku. Hehehe.
“Kasih” itu kata-katanya yang pertama
“Kamu nggak apa-apa kan, gimana perasaanmu sekarang?, kamu kok bisa nelen air laut sih?”, pertanyaanku memberondongnya, dan iya tak menjawab satu pun.
Masih dengan diliputi perasaan khawatir aku membangunkannya. Membantunya duduk utnuk lebih menghirup udara segar. Oh, Bagus. Betapa panik dan khawatirnya aku sedari tadi. Dan sekarang, lega rasanya melihatmu sudah duduk lagi disampingku dengan senyumanmu yang jadi sedikit asin. Tampaknya masih terkontaminasi air laut.
Dengan nafas yang masih terputus-putus Bagus berucap, “Sih, kamu kok melepas tanganku tadi, aku kan nggak bisa berenang”, ucapnya polos.
?!@#%^^#@$%%#@
Perasaan lega di hatiku yang baru saja singgah tiba-tiba berubah jadi ?!@#%^^#@$%%#@.
Nggak tahu deh perasaan seperti apa itu........
Sudah lama aku tidak ke tempat ini. Tanjung Bagas_Bagus dan Kasih. Begitu aku menamainya. Dulu setiap kali ke tempat ini bersama Bagus, kami selalu melewatkan waktu sore hari dengan berjalan di sepanjang bibir ombak yang tadi memanggilku. Saat itu tantangan seperti ini juga sering aku dengarkan tapi aku tidak pernah memperdulikannya karena asyik bercengkrama dengan Bagus.
Hingga beberapa bulan yang lalu dia pergi meninggalkanku. Aku tidak pernah datang lagi ke Tanjung Bagas.
Hari ini aku bertemu kembali dengannya. Kali ini kami tidak berdua, beberapa teman lainnya juga bersama kami. Pertemuan kali ini bukan untuk bernostalgia berdua dengannya, tapi acara reunian yang diadakan Ikatan Alumni kampus kami. Sekitar 100 orang bersama kami saat ini.
Aku memberanikan diri untuk memulai percakapan dengan Bagus saat pertemuan kembali tadi pagi. Dan mengajaknya berjalan-jalan lagi seperti dulu di sore ini di tempat kami biasanya. Aku akan mencoba menerima tantangan dari sang ombak, kali ini.
Dia mengikutiku, tangannya tidak dilepaskan. Dia berpegangan semakin erat malah. Aku merasakannya. Senang sekali rasanya dia memegang tanganku seperti itu. Dia pasti juga senang bertemu lagi denganku, sama seperiku. Dia pasti senang karena akhirnya aku mengajaknya menerima tantangan ombak seperti yang dulu sering aku ceritakan padanya.
Kami mulai berjalan menembus air laut Tanjung Bagas. Masih terasa panas meski sudah sore hari. Mungkin karena terik matahari siang tadi suhunya terlalu tinggi. Tapi setelah menyelam ke dalamnya, rasanya berubah. Hangat dan asin, tentunya. Sedikit air laut sempat masuk ke leherku, tapi rasa asinnya agak berbeda. Asin-asin bahagia...(emang ada rasa seperti itu??????) hehehe.
Kami berenang, tujuannya hingga agak ke tengah laut, hingga mencapai tanda pembatas maksimal kedalaman diperbolehkan berenang bagi para pengunjung. Asyik rasanya, berenang sambil berpegangan tangan dengannya. Berenang menembus air laut yang sudah lama mengundangku. Sang ombak pasti senang sekarang. Sama seperti aku.
Kami hampir sampai. Tanda pembatas itu harus aku raih untuk memenangkan tantangan ini. Mungkin kami sudah berada pada kedalaman hampir 2 meter. Kakiku sudah tidak bisa merasakan pasir di dasar laut ketika aku coba berdiri tegak. Kepalaku kemudian tidak bisa melihat langit biru di atas sana ketika aku coba menyentuh dasar laut dengan kakiku. Tanganku.......eh, tanganku tidak lagi merasakan pegangan erat dari Bagus.
Kami tidak berpegangan lagi. Tapi, kemana dia?.
Aku menyembulkan kepalaku ke udara, mencarinya, “Gus,...kamu dimana?” lalu berharap dia muncul dan menjawab, “aku dihatimuuuuuu” seperti iklan saja.
Ternyata dia ada di belakang, masih jauh tertinggal olehku. Ah, payah. Ternyata aku lebih jago meluncur daripada dia. Itu baru aku tahu karena baru sekarang kami melakukannya. Aku menunggunya sambil terus mengayungkan kedua tangan dan kakiku agar tetap mengapung. Tapi....
Dia nggak sampe-sampe juga kemari. Eh, Bagus....kenapa mencak-mencak begitu.
“Gus, kamu kenapa?, jangan bercanda”, teriakku sambil mengayuh kemudi_berenang_ke arahnya. Oh, My God.
Dia......sepertinya butuh pertolongan. Dia menganyung-ayungkan tangannya seperti hendak meraih sesuatu diudara. Lalu kemudian aku tak melihat tangannya lagi. Bagus tenggelam. Aku mencarinya. Itu dia. Segera ketarik dan kurasakan dia tidak bergerak lagi. Sepertinya dia menelan banyak air.
Duuuh Bagus, kalau kehausan jangan minum di sini donk. Sudah tahu rasanya asin, pasti nggak enak. Tuh kan kamunya jadi nggak bergerak gini. Pikiran anehku mulai menguasaiku.
Aku panik. A-aku, bingung. Ditengah laut begini. Nggak ada orang lain. Gimana nih?.
Sekuat tenaga aku berenang kembali ke pantai sambil menarik Bagus. Mudah-mudahan dia nggak apa-apa. Dia kenapa sih, kok tiba-tiba kelelep begitu. Dan pikiranku masih nggak karuan saat itu. Aku merasa lelah mengayuhkan tangan dan kakiku. Duuuh, jauh sekali pantai itu, ternyata seudah sejauh ini saya berenang. Aku harus kuat. Sedikit lagi, aku hampir sampai. Aku harus segera menyelamatkan Bagus. Karena ini semua salahku.
Phuuf....akhirnya.
Sampai juga. Segera kutarik tubuh Bagus ke tempat yang aman. Kulihat sekeliling, nggak ada orang. Pada kemana sih?. Aku juga yang salah mengajak Bagus ke tempat ini yang memang selalu sepi. Tempat favorit kami dulu.
Untung saja aku pernah mengikuti pelatihan P3K waktu PMR di SMA dulu. Jadi sedikit banyak aku tahulah mengenai pertolongan pertama untuk kasus seperti ini. Aku ingat. Yang pertama terpikir adalah memberikan napas buatan...Mouth to mouth...He he he. Bukan.
Yang saya dapat di PMR, Si Korban itu dibungkukkan ke depan. Posisi si penolong di belakang korban, 1 tangan penolong di perut korban, setelah korban agak dibungkukkan ke depan, 1 tangan si penolong yg lain menepuk-nepuk di punggung si korban untuk mengeluarkan air yg masuk di paru2nya.
Bisa juga si korban dibaringkan di tempat yang datar, kepalanya dimiringkan, dan si penolong posisinya berlutut di atas si korban. 2 tangan si penolong ditumpuk tepat 3 jari di bawah pertemuan tulang iga si korban lalu tekan ke atas sampai air dlm paru2 korban keluar.
Jika airnya nggak keluar-keluar juga. Jalan terakhir lakukan bantuan nafas, untuk memancing kembali nafas korban.
Aaakkkhhh. Lama. Terlalu lama aku berpikir mengingat kembali semua teori-teori itu. Ternyata prakteknya sangat sulit, dan itu yang kuhadapi sekarang.
Coba dulu, cara yang kedua. Hmmmn....nggak bisa.....rasanya mau menagis. Hiks....Bagus, ayo dong, kok gini sih.
Coba lagi, nggak bisa juga.
Ulangi lagi, belum bisa
Ya udah. langsung cara ketiga aja. Huuuuf, tarik nafas.............
Sekali lagi. Huuuuuuf................
“Uhuk, uhuk”, akhirnya, air itu keluar. Hmn, asin.
Aku sempat mencicipinya.
“Gus, Bagus” aku mencoba memanggilnya.
Aku ingin berucap, “Jangan sadar dulu Gus, belum yang ketiga nih” tapi itu Cuma di khayalanku. Hehehe.
“Kasih” itu kata-katanya yang pertama
“Kamu nggak apa-apa kan, gimana perasaanmu sekarang?, kamu kok bisa nelen air laut sih?”, pertanyaanku memberondongnya, dan iya tak menjawab satu pun.
Masih dengan diliputi perasaan khawatir aku membangunkannya. Membantunya duduk utnuk lebih menghirup udara segar. Oh, Bagus. Betapa panik dan khawatirnya aku sedari tadi. Dan sekarang, lega rasanya melihatmu sudah duduk lagi disampingku dengan senyumanmu yang jadi sedikit asin. Tampaknya masih terkontaminasi air laut.
Dengan nafas yang masih terputus-putus Bagus berucap, “Sih, kamu kok melepas tanganku tadi, aku kan nggak bisa berenang”, ucapnya polos.
?!@#%^^#@$%%#@
Perasaan lega di hatiku yang baru saja singgah tiba-tiba berubah jadi ?!@#%^^#@$%%#@.
Nggak tahu deh perasaan seperti apa itu........
****
Created By: Vitri_Jalee
Terinspirasi dari mimpi semalam dengan sedikit improvisasi.
Terinspirasi dari mimpi semalam dengan sedikit improvisasi.
Ya.....diajari dulu atuh si Bagas berenang.....
ReplyDeleteSepertinya saya itu!!! dak tau ka' berenang bela... hehehe...
ReplyDelete@Riza:
ReplyDeleteTEEEEEEEETTTTTTT.......
Anda Salah.