Skip to main content

Penggalan Kisah_Gue BangeeeeetS

Aku sih nggak masalah, emank nggak doyan ngegosip kok. Setelah jadian pun sikap kami nggak berubah. Lagian pacaran nggak harus pake mesra-mesraan toh? Waktu itu aku mikir klo pacar kan cuma status, nggak lah yaw mesra-mesraan!! Iihik jijaay bajaaay!! Bukan karena alasan religius, tapi karena nggak gue banget dah!! Yang penting tahu kalau kita saling care.

(Dyotami_Cintaku Putus Nyambung)

Beberapa pertanyaan memenuhi kepalaku, mendesak minta dijawab:

  1. kalau dia memang belum siap untuk.................................?
  2. kalau dia tidak sreg denganku, kenapa dia malah meneruskan proses ini sampai dua bulan lamanya yang membuat perasaan saya semakin dalam padanya?
  3. kalau dia memang tidak serius deganku, kenapa dia mengirimiku kata-kata manis yang membuat harapanku semakin melambung?
  4. apa maksud dia dibalik semua itu?

Pertanyaan no. 3 langsung dijawab dengan smsnya:

“saya memang suka bercanda sama siapapun, maaf ya kalau saya kelewat batas, tapi sebenarnya tidak ada maksud apa-apa kok”

Becanda? Jadi selama ini dia cma becanda? Duh, perih rasanya hati ini. Yah, mungkin memang saya yang ge-er dan berharap terlalu tinggi. Terlalu terpengaruh oleh rasa cinta saya dan kepercayaan bahwa dialah seseorang yang didatangkan Allah untukku.

Dan aku makin sakit hati waktu dia balik menuduhku kekanak-kanakan. Tidak tahukah dia bahwa saya sedang menangis keras dan memegangi dadaku yang sakit?

Mungkin aku memang kehilangannya sebab cintaku sudah dalam. Tapi rasa sakit karena dilecehkan itulah yang lebih dominan. Juga perasaan berdosa karena telah jatuh cinta pada orang yang salah.

Salahkah jika aku mengatakan kepadanya bahwa aku berharap tidak ada lagi pria seperti dia? Berapa banyak wanita yang akan sakit hati kalau banyak pria yang tercipta seperti dia. Dan ketika para pria itu berkumpul, mereka menertawakan para wanita yang telah terbodohi.

Dia masih terus membela diri, tanpa meminta maaf kepadaku.

Ya Allah.....aku merasa sangat berdosa kepada Allah karena dua bulan itu aku telah menduakan cintaNya.

Kisah ini benar-benar menjadi pelajaran bagiku untuk merevisi doaku. Aku berharap hanya akan jatuh cinta pada lelaki yang sudah menjadi suamiku. Ingat, sudah menjadi suamiku. Cinta itupun nantinya akan aku kelola sebisa mungkin agar tidak berlebihan karena meskipun sudah menjadi suami, bukan tidak mungkin suami membuat kita patah hati. Dan mungkin memang saya masih lemah dalam soal cinta, sehingga Allah terus mengujiku dengan masalah ini. Satu lagi, mata saya akhirnya lebih terbuka untuk tidak melihat seseorang hanya dari simbol.

Akulah seorang putri yang tidak jadi dijemput pangeran. Tapi sekarang sang putri tidak hanya menunggu di atas menara istana, karena menunggu itu rasanya membosankan. Perlahan sang putri menuruni tangga menara dan memulai kehidupan barunya dengan membagi cintanya bukan hanya untuk sang pangeran yang entah kapan datang menjemput, tapi juga untuk keluarga dan orang-orang sekitar yang selama ini terlupakan.

Sang putri mulai menata hidup dan membersihkan hatinya agar lapang saat menerima kedatangan pangeran yang sesungguhnya.

Makin dekat dengan Allah.

Makin banyak kegiatan.

Makin tebar pesona.

Hehehe.

Makin yakin, pangeran pasti datang. Yang baik, hanya untuk yang baik. Mudah-mudahan dimata Allah sang putri adalah wanita yang baik sehingga dijodohkan dengan orang yang baik juga. Amin.

(Leyla Imtichanah_Pangeran Tak Jadi Datang Menjemput)

(Dengan Sedikit Perubahan)

Sumber: La Tahzan for Broken Hearted Muslimah_Asma Nadia, dkk

Comments

  1. Wah wah wah... sepertinya curahan hati nih untuk seseorang yang pernah disakiti...!!!
    Sabar yah,,, yakinilah pasti Allah swt kan memberikan kamu jodoh yang lebih baik dari dia dan yang pasti yang tak akan menyakiti hatimu..!!!
    Tetap Semangat!!!

    ReplyDelete

Post a Comment

Jangan keluar.....
sebelum meninggalkan Comment Ya......

Popular posts from this blog

FAIRY

Pengen deh jadi angel, Peri, bidadari atau apalah namanya... mereka tampak cantik sekali... Atau seperti putri2 dalam cerita dongeng. 

Bendahara Harus Mahir Pajak (Part 2)

Ehhem.... Singkirkan segala macam tumpukan kertas dari hadapanku... aku mau ngetik, ngisi blog .... mumpung lagi ada inspirasi dan kesempatan.......masa' iya tahun 2017 sudah di Septembernya tapi blogku masih kosonng. HAI HAI HAIIII... jumpa lagi dengan tulisan tak penting dari akuuuu... Assalamu alaikuuuum... Apa kabar? Udah pada nunggu lanjutan "Bendahara Harus Mahir Pajak"" Yaaaaa????  Apa?  ENGGAk??  HIKSss.. BUBAAArrrr... ..............

BENDAHARA HARUS MAHIR PAJAK (PART I)

Assalamualaikum.... Akhir-akhir ini jadi rempong sendiri melayani para bendahara pengeluaran pembantu alias bendahara di puskesmas yang sering bertanya soal pajak. Gimana cara ngitungnya, berapa tarifnya, apa jenis pajaknya, gimana SSP nya?? macam-macam lah pertanyaannya. Jadi bosan ditanya terus, bahkan sudah berulangkali dijelaskan juga masih bertanya lagi.... Saya sih maklum dan coba sabar ajah, mengingat latar belakang pendidikan mereka rata-rata dari ilmu kesehatan. Nah Loh, kok jadi bendahara?? yaa.. mau gimana lagi, kalo tenaga yang disediakan cuma itu. Seharusnya kan pekerjaan seperti itu ditangani oleh ahlinya juga, tapi APBD maupun APBN belum mampu untuk pengadaan pegawai lagi. Ah, kok malah bahas pengadaan pegawai. Back to topik....