Tulisan ini adalah postingan lama dari blog lain milikku... untung saja saya sempat mencopy dan menyimpannya. Ditulis dan dipublllikasikan pada tanggal 25 Juli 2011, ini dia dari dunia yang telah hilang:
****
Akhirnyaaa…
bisa nulis-nulis lagi… dan Alhamdulillah mulai sekarang, insya Allah
sayah bisa eksis lagi dalam dunia penulisan ini (jiaaah, gaya. Padahal
cuma orbitin di Blog. Hahaha)
Sekali lagi Alhamdulillah banget deh, Thanks God, Syukran Ya Rabb.
Sayah menganggap ini hadiah satu bulan jadian dengan Abi, ini hadiah dari Allah SWT buat sayah ;) . Eh, udah pada kenal Abi? belum pernah cerita ya? Abi itu panggilan buat misua alias suami akyuuu. Hehe
YUP. Sayah sudah tidak single lagi sekarang. Ternyata selama masa menghilangnya sayah kurang lebih 6 bulan ke belakang (*nengook..), Allah menjalankan rencananya. Sempurna, tanpa gangguan. La haula wa la quata illabillahi. Allah mengatur pertemuan sayah dengannya (dan sekarang sudah aku panggil Abi, Subhanallah)
Mau tahu apa saja yang sayah lewati dan kisah yang sungguh mengharu ungu hampir kayak kisah Purple Love nya Ungu?????
Ada dua pilihan. jika “Ya, Saya Mahu” silahkan lanjutkan baca, tekan panah bawah pada keyboard anda dan konsentrasikan mata dan pikiran ke monitor, siap-siap membaca kisah cinta abad ini… hehehe. Atau…
Pilihan kedua… “Ogah ah, Nggak Epen (baca: Nggak Penting)”, silahkan arahkan mouse ke sudut kanan atas, di situ ada tanda “X”… Silahkan KELUAAAAAAR, atau tinggalkan halaman ini… hohohoho.. (Sangat disarankan untuk tidak memilih opsi kedua ini)
Sudah ngambil pilihan pertama??? Ayooo, kita let’s Go.. Bekicot!!! Eh, Check it out…..
Awal kisah dimulai… (alaaah.. kayak mau mendongeng )
Sejak Pertengahan Desember 2010, waktu itu sedang sibuk mengurus pendaftaran ulang CPNSD, Alhamdulillah nama sayah masuk koran sebagai salah satu yang berhasil lolos untuk mendapatkan kesempatan menjadi Pegawai Negeri Sipil. Padahal daftarnya juga hanya karena bujuk rayuan dari keluarga, kl dari dalam hati sendiri sebenarnya nggak terlalu berminat, tapi demi masa depan yang katanya bisa terjamin (ini juga cuma dengar dari cerita orang2) dan demi keluarga yang berharap pada sayah, akhirnya sayah urus semua hal yang dibutuhkan, kesana kemari ke utara ke selatan. Untungnya ada si Beatty yang setia menemani (kl Beatty itu, motor sayah).
Jangankan soal blog dan berbagi cerita dengan teman-teman di blog, kerjaan yang saat itupun masih bertumpuk karena sudah memasuki akhir tahun, banyak yang harus dikerjakan, terpaksa dibiarkan begitu saja. Sungguh kuasa Allah, pak Boss tidak memberatkan sayah akan hal ini, beliau tahu kesibukan sayah saat itu dan memberikan keleluasaan untuk menyelesaikan urusan pendaftaran itu baru kemudian menyelesaikan kerjaan kantor. Baek kan Boss sayah itu, siapa dulu dong bawahannya, sayah gitu loooch.
Akhir Desember… semua urusan pendaftaran ulang selesai, tinggal nunggu panggilan untuk menerima eSKa. Pak Boss juga sudah meminta untuk mencarikan pengganti dirikuh, seorang teman telah kuusulkan dan langsung diterima. Sebelum keluar dari kantor , semua kerjaan telah diserahterimakan kepada teman penggantiku. Lalu akhirnya sayah pamitan kepada teman-teman kantor. Sayah pikir akan ada drama perpisahan yang mengharukan, tapi kok semuanya pada adem ayem saje, biasa aja, cipika-cipiki yuk dadah bai bai…. Wedeew, sepertinya kepergianku dari kantor itu memang sudah ditunggu-tunggu…. Wkwkwkwkwk.
Januari, 2011….. Tahun Baru…. Aktivitas sayah juga baru, nggak beraktivitas. Hebat kan. Hehe, Tenyata saya belum mulai masuk kerja di Pemerintahan. Lama lama aku bosan bila kamuuu slalu tinggalkanku.. (lho.. maap ini lagunya Audy), lama-lama memang bosan jadi pengangguran yang terselubung, ditambah tuntutan biaya hidup yang mulai tidak bisa dipenuhi karena isi dompet udah menipis.
Iseng-2 ngelamar kerja lagi, dapat lowongan di koran. Eh, keterima. Pas masuk, Beeeeeuugh… kondisi lingkungan kerjanya nggak banget. Satu hari masuk kerja, setelah negosiasi gaji dan dibuatkan kontrak untuk 3 bulan pertama.. rasanya nggak betah banget (alasannya: karena sesuatu dan lain hal).
Mungkin sudah takdir dari Allah, waktu itu kontraknya belum bisa diprint semuanya, so sayah belum bisa menandatanganinya. Memanfaatkan keadaan ini, sayah merasa belum punya ikatan apapun dengan perusahaan itu, keesokan hari dan seterusnya sayah tidak datang ke kantor itu lagi,…. Huahuahuahua.. Kabuuuuuuuuuuur.
Resiko yang sayah terima hanya berupa telepon dari ibu HRD perusahaan itu sampai tiga hari lamanya dia terus berusaha mnenghubungiku, tapi teleponnya nggak pernah sayah terima,,,, hihihi.
Coba daftar lagi ke tempat baru, saat interview suasananya seperti cocok, banyak cowok2 cakep (hahaha, ketahuan deh ganjennya). Sayah sudah berharap sekali bisa diterima, tapi kali ini sepertinya bukan giliran sayah untuk beraksi. Berhari-hari setelah interview sayah menunggu panggilan, tp HP tidak berdering dari ID yang diharapkan (dari kantor itu). Artinya apa? Sayah tidak diterima. Hahaha, Allah memang Maha Adil.
Kembali menganggur… (hoaaaaam, sudah panjang… mana kisah cintanya yang katanya mengharu ungu ituu???)
-------
Masuk di bulan Februari. Nah, ni nih bulan yang bersejarah. Tepatnya tanggal 5 Februari pukul 22.00 (sepertinya lewat sedikit), sayah mengenalnya tanpa sengaja, dari suatu sumber yang tidak perlu disebutkan. Hari itu kami tukaran pin BB_hueeeeek_nomor telepon maksudnya. Ya, cuma tukaran nomor telepon kok. (Maaf tadi salah tulis dan sudah tidak bisa dihapus. Hehe).
Dan keesokan harinya (tgl 6 Februari 2011, Red), proses perkenalan pun dimulai. Awalnya saling sms-an, tukar-tukaran biodata dan segala hal yang masing-masing ingin kami ketahui. Dia juga banyak bertanya beberapa hal yang sifanya serius, seperti… ehm.. “Apakah sebelumnya sudah ada yang pernah ngelamar Ukhti??”
Hohohoh… sayah dipanggil “Ukhti”, sebutan yang sangat sayah sukai dan familiar ketika masih kuliah, tapi agak gimanaaaa gitu dengernya karena kali ini datangnya dari seorang Ikhwan. Seperti berada dalam novel2 islami yang sering sayah baca, ketika membaca bagian yang mengadegankan seorang ikhwan dengan kehati-hatiannya mendekati dan berbicara dengan akhwat yang menarik hatinya. Sayah seperti merasakan menjadi tokoh akhwatnya, rasanya Serr serrr Deg Dhuar Brrr…
Sebenarnya nggak nyangka kl dia benar-benar serius ingin mencari pendamping hidup, yang bisa jadi istri sholehah, mandiri, baik hati, penyayang, penuh perhatian, tidak sombong, wajahnya enak dipandang (Gue Bangetzzz, yakin deh!!!!) seperti yang dia sebutkan ketika pertama kali berkenalan. Nggak nyangka abissssss, habis-habisan saya tidak menyangka, hanya dalam satu hari itu (masih di tgl 6 Feb), dia menyatakan niatnya untuk memintaku jadi pendamping hidupnya. (yaaaaaaah, mungkin dia langsung sadar kl gue memenuhi point-point yang tertulis di atas.. hohohoho).
Kalo orang lain yang ditanya seperti itu oleh orang yang baru dikenalnya kurang dari 24 jam, apa yang akan mereka jawab???
“Kita kenalan aja dulu yah, jalanani saja dulu”, atau
“Biar mengalir apa adanya, jika jodoh tak akan kemana”, atau
“Gimana yah, kita kan baru kenalan, aku pikir2 dulu yah, seminggu dua minggu deh”….
Pasti agak merepet-repet ke situ kan jawabannya.
Kalo sayah, sempat berpikir juga sih, tapi cuma dalam hitungan menit. Beberapa kali sms, sayah menanyakan visi dan misi untuk kehidupannya dan kehidupan rumah tangganya nanti, sayah juga tanya alasannya “Nembak” saya secepat itu. Dan semua yang dia jawabkan kepada sayah bersama sebuah doa yang dia kirimkan “Ya, Allah.. Mantapkanlah Hatinya untukku” membuat sayah akhirnya memberikan jawaban…
“Bismillahirrahmanirrahim, iya saya mau”
Hmmnn, rasanya waktu itu enteng saja sayah menjawab. Tak ada beban dan tak ada keraguan. Sayah memang baruuu saja mengenalnya, tapi semua yang dia sampaikan dalam waktu yang singkat itu sangat mengena di hati dan hatiku berkata:
“Inilah orang yang telah ditakdirkan bagiku, yang telah dihubungkan denganku sejak laut purbakala oleh molekul dan atom dengan benang merah (alaah, apa-apaan ini?? Wkwkwk).
Sayah menginginkan sosok seperti dia, yang bisa jadi pembimbing saya, yang lebih dewasa (dalam hal sikapnya), yang bisa memukul sayah jika malas-malasan bangun untuk shalat subuh, pokoknya bisa jadi murabbi pribadi sayah deh. Usia sayah juga sudah memasuki usia untuk menikah, meski tidak pernah menargetkan untuk menikah ditahun ini juga sih.
Eh, Tapi pernah (bulan Januari 2011, Red) sayah sempat bercanda dengan teman-teman kuliah saat ngumpul2 bareng di Maros. Kami membicarakan soal rencana-rencana masa depan, dan saling mendorong untuk segera menikah, apalagi buat yang lebih tua di antara kami. Ketika giliran saya tiba, dengan entengnya saya menjawab, “Insya Allah, saya bulan enam”. Mungkin waktu itu karena saya mengucapkannya dengan hati dan sekelebat ada Malaikat pembagi rejeki yang lewat dan mencatat ucapan sayah itu, lalu menyampaikannya kepada Allah swt. (eh, Malaikat yang bagi rejeki juga bertugass bagi2 jodoh yah???).
Ketika jalan menuju itu sudah telihat, kenapa sayah tidak melangkah kesana. Dia, dia memilihku dan sayah juga akan memilihnya. (KALI INI sudah saling memilih satu sama lain, insya Allah nanti akan saling mencinta satu sama lain)
Bukankah Rasulullah Saw mengajarkan kita cara terbaik untuk memilih laki-laki/wanita untuk pendamping hidup??. Wanita dinikahi karena empat hal, karena kecantikannya, kekayaannya, keturunannya dan karena agamanya, maka nikahilah yang baik agamanya agar kamu bahagia (betul nggak sih begini kata-katanya???. yaaah, kurang lebih seperti itu, mohon diperbaiki sendiri yaah). Hanya ini yang jadi pertimbangan sayah untuk berkata “Iya”, karena lelaki ini baik Agama nya. Itu saja. Titik.
Dan dia juga pasti sangat beruntung kalo mendapatkan istri seperti sayah.. (Promosi aah) sayah kan memang bisa jadi istri sholehah, mandiri, baik hati, penyayang, penuh perhatian, tidak sombong, wajahnya enak dipandang. Puokoknya, mantep deh. Maknyusss.. (Tapi kok ada yah, lelaki yang menyia-nyiakan dirikuh dulu…. Husss, Astagfirullaah)
Februari pun berlalu dengan kenangan dan harapan-harapan baru didalamnya. Hari-hariku yang meski tidak diisi dengan kegiatan menarik, hatiku tetap bersemangat. Dia yang mulai saat itu mulai rutin menghubungiku. Komunikasinya hanya lewat telepon, ketemunya hanya satu kali di bulan Februari itu, sampai dengan hari pernikahan tiba, kl di hitung-2 pertemuan kami hanya 4 kali, itupun kalo ada hal yang penting. Seperti mau ngasih kado saat sayah ulang tahun (27 Mei, Red…Ikh, ini hal penting yah?? Dipenting-pentingin aja deh).
Tapi, setiap kali ketemu dia, melihatnya (oooh, ini dia calon suamiku), menambah keinginan sayah untuk segera dipinangnya (Ganjen, akh). Mungkin dia juga berpikiran sama dan dia merasa mungkin ada aura-aura syaitan yang menyelip dalam keinginan itu, makanya dia bilang,
“sebaiknya, pertemuan kita jangan terlalu intens.. tidak baik, Dinda (sudah mulai dipanggil Dinda, ciiiiiin), Insya Allah akan lebih baik jika kita menjaga diri sampai hari pernikahan tiba” Oowwww… Makin aku cintaaaaa, cermin sikapmu yang mampu meredam rasaaaaa…
Oia, lupa… Hal yang paling mendebarkan adalah saat sayah harus memberitahu orang tua soal rencana kami ini. Sulit sekali mencari saat yang paling tepat hanya untuk bilang “Ma, Pa.. Aku mau menikah”.
Sama Mama (ammakku), sayah bilang saat lagi mencuci bareng (so sweet..) beliau kaget. Ekpresinya seperti senang yang tertahan oleh rasa heran. Anaknya ini mau menikah dengan siapa? Selama ini sayah tidak pernah membawa seorang lelaki dengan hubungan spesial ke rumah. Pertanyaan pun bertubi-tubi dari sang Bunda diselingi bunyi sikat cucian, sreeet sreet, bugh bagh.. Cucian selesai, hati pun lega telah menyampaikan niat di hati.
Sama Bapak, saat nonton bareng (keluargaku harmonis kan, apa-apa dilakukan bareng.. hehehe). Sayah tidak tahu mau pakai kata-kata apa untuk memulai, beliau serius sekali nontonnya, ntar malah jantungan mendengar kata-kataku. Lagian, lidahku seperti mengecil, tidak bisa bergerak. Ahha… aku dapat ide.. TRiiing. Sayah lalu ngambil HaPe, ngetik beberapa kata2 ajaib dan memperlihatkan ke muka Bapak, biar dia baca saja kata-kataku, sungguh lidahku tidak bisa digunakan saat itu.
“Pak, saya mau menikah, sudah ada yang mau melamar, Boleh kaaaan?” begitulah isi sms yang aku perlihatkan padanya. Wkwkwkwkwk….Edan. Bapak diam, dan sayah tidak peduli, itu pasti artinya boleh. Yess yess yesss. Alhamdulillah, misi completed.
Wakil dari keluarga Kanda pun datang ke rumah. Lalu semua proses berjalan dalam waktu 4 bulan (Februari s/d Mei 2011). Perkenalan, Lamaran, Pa’nassa’, Panaik Doe’ (Adat Makassar). Sebulan kemudian baru deh akad nikah, saat Akad nikah ini baru kemudian kedua orang tua saya pertama kali melihat calon menantu yang beberapa jam lagi jadi menantunya. Begitu jua Kanda, saat itu dia baru pertama kali melihat calon mertua yang beberapa jam lagi jadi mertuanya dan baru pertama kali menginjakkan kakinya di rumahku. Lalu acara resepsi yang melelahkan, lalu, lalu, lalu malam pertamaaaaa.. Malam pertama yang akan selalu dikenang, kegiatan yang paling dinanti-nantinya, Nonton Bola Bareng… wkwkwkwk, Bohong deh. (19 Juni 2011, dan sayah benar-benar telah menikah di bulan Juni, sungguh kekuatan kata-kata yang keluar dari hati itu luar biasa).
Subhanallah… Maha suci Allah yang telah mempertemukan sayah dengan suamiku ini dengan cara yang tidak terduga-duga. Semoga Pernikahan kami penuh berkah, dan bisa membawa kami selamat dunia akhirat. Aaamiiin.
Saat saya menulis catatan ini, sudah sebulan kami hidup bersama.Senang, suka, susah dan duka, kami janji lalui bareng-bareng. Semuanya tidak serba mulus sih, pasti ada hal-hal kecil yang menjadi bahan perdebatan, tapi berdebat dengan Abi sangat menyenangkan. Kalo sayah yang memenangkan perdebatan, bangga rasanya dan sayah akan tersenyum senang untuk hadiah kekalahannya. Dan Kalo Abi yang menang, saya menghibur diri dengan mengatakan “lumayan, buat nambah-nambah ilmu” lalu tersenyum lagi sebagai hadiah kemenangannya. Sungguh benar pepatah “Kalah jadi abu menang jadi arang”, Abi berdebat dengan sayah, kalah menang tetap saja dapat senyuman hahaha.
Ada hal-hal yang tidak aku sukai darinya, mungkin dia juga menemukan hal-hal yang tidak dia sukai ada padaku. Tapi, kami masing-masing tahu, kehidupan rumah tangga memang seperti itu, jadi hal-hal yang tidak mulus itu tidak perlu terlalu dijadikan masalah. Cukup menikmatinya sebagai bumbu penyedap… hmmn.. penyedap apa yah… What ever lah, pokoknya kami bahagia deh, sudah bisa pacaran tanpa batas, saatnya menikmati masa-masa pacaran kami dulu. Doakan yaaaah!!!!
Akhir kata… (yesss, sudah mau habis). Saya Cuma mau bilang buat abiku, ANWAR Bin HJ. NUHUNG, “ANA UHIBBUKA FILLAH”
XXX
Sekali lagi Alhamdulillah banget deh, Thanks God, Syukran Ya Rabb.
Sayah menganggap ini hadiah satu bulan jadian dengan Abi, ini hadiah dari Allah SWT buat sayah ;) . Eh, udah pada kenal Abi? belum pernah cerita ya? Abi itu panggilan buat misua alias suami akyuuu. Hehe
YUP. Sayah sudah tidak single lagi sekarang. Ternyata selama masa menghilangnya sayah kurang lebih 6 bulan ke belakang (*nengook..), Allah menjalankan rencananya. Sempurna, tanpa gangguan. La haula wa la quata illabillahi. Allah mengatur pertemuan sayah dengannya (dan sekarang sudah aku panggil Abi, Subhanallah)
Mau tahu apa saja yang sayah lewati dan kisah yang sungguh mengharu ungu hampir kayak kisah Purple Love nya Ungu?????
Ada dua pilihan. jika “Ya, Saya Mahu” silahkan lanjutkan baca, tekan panah bawah pada keyboard anda dan konsentrasikan mata dan pikiran ke monitor, siap-siap membaca kisah cinta abad ini… hehehe. Atau…
Pilihan kedua… “Ogah ah, Nggak Epen (baca: Nggak Penting)”, silahkan arahkan mouse ke sudut kanan atas, di situ ada tanda “X”… Silahkan KELUAAAAAAR, atau tinggalkan halaman ini… hohohoho.. (Sangat disarankan untuk tidak memilih opsi kedua ini)
Sudah ngambil pilihan pertama??? Ayooo, kita let’s Go.. Bekicot!!! Eh, Check it out…..
Awal kisah dimulai… (alaaah.. kayak mau mendongeng )
Sejak Pertengahan Desember 2010, waktu itu sedang sibuk mengurus pendaftaran ulang CPNSD, Alhamdulillah nama sayah masuk koran sebagai salah satu yang berhasil lolos untuk mendapatkan kesempatan menjadi Pegawai Negeri Sipil. Padahal daftarnya juga hanya karena bujuk rayuan dari keluarga, kl dari dalam hati sendiri sebenarnya nggak terlalu berminat, tapi demi masa depan yang katanya bisa terjamin (ini juga cuma dengar dari cerita orang2) dan demi keluarga yang berharap pada sayah, akhirnya sayah urus semua hal yang dibutuhkan, kesana kemari ke utara ke selatan. Untungnya ada si Beatty yang setia menemani (kl Beatty itu, motor sayah).
Jangankan soal blog dan berbagi cerita dengan teman-teman di blog, kerjaan yang saat itupun masih bertumpuk karena sudah memasuki akhir tahun, banyak yang harus dikerjakan, terpaksa dibiarkan begitu saja. Sungguh kuasa Allah, pak Boss tidak memberatkan sayah akan hal ini, beliau tahu kesibukan sayah saat itu dan memberikan keleluasaan untuk menyelesaikan urusan pendaftaran itu baru kemudian menyelesaikan kerjaan kantor. Baek kan Boss sayah itu, siapa dulu dong bawahannya, sayah gitu loooch.
Akhir Desember… semua urusan pendaftaran ulang selesai, tinggal nunggu panggilan untuk menerima eSKa. Pak Boss juga sudah meminta untuk mencarikan pengganti dirikuh, seorang teman telah kuusulkan dan langsung diterima. Sebelum keluar dari kantor , semua kerjaan telah diserahterimakan kepada teman penggantiku. Lalu akhirnya sayah pamitan kepada teman-teman kantor. Sayah pikir akan ada drama perpisahan yang mengharukan, tapi kok semuanya pada adem ayem saje, biasa aja, cipika-cipiki yuk dadah bai bai…. Wedeew, sepertinya kepergianku dari kantor itu memang sudah ditunggu-tunggu…. Wkwkwkwkwk.
Januari, 2011….. Tahun Baru…. Aktivitas sayah juga baru, nggak beraktivitas. Hebat kan. Hehe, Tenyata saya belum mulai masuk kerja di Pemerintahan. Lama lama aku bosan bila kamuuu slalu tinggalkanku.. (lho.. maap ini lagunya Audy), lama-lama memang bosan jadi pengangguran yang terselubung, ditambah tuntutan biaya hidup yang mulai tidak bisa dipenuhi karena isi dompet udah menipis.
Iseng-2 ngelamar kerja lagi, dapat lowongan di koran. Eh, keterima. Pas masuk, Beeeeeuugh… kondisi lingkungan kerjanya nggak banget. Satu hari masuk kerja, setelah negosiasi gaji dan dibuatkan kontrak untuk 3 bulan pertama.. rasanya nggak betah banget (alasannya: karena sesuatu dan lain hal).
Mungkin sudah takdir dari Allah, waktu itu kontraknya belum bisa diprint semuanya, so sayah belum bisa menandatanganinya. Memanfaatkan keadaan ini, sayah merasa belum punya ikatan apapun dengan perusahaan itu, keesokan hari dan seterusnya sayah tidak datang ke kantor itu lagi,…. Huahuahuahua.. Kabuuuuuuuuuuur.
Resiko yang sayah terima hanya berupa telepon dari ibu HRD perusahaan itu sampai tiga hari lamanya dia terus berusaha mnenghubungiku, tapi teleponnya nggak pernah sayah terima,,,, hihihi.
Coba daftar lagi ke tempat baru, saat interview suasananya seperti cocok, banyak cowok2 cakep (hahaha, ketahuan deh ganjennya). Sayah sudah berharap sekali bisa diterima, tapi kali ini sepertinya bukan giliran sayah untuk beraksi. Berhari-hari setelah interview sayah menunggu panggilan, tp HP tidak berdering dari ID yang diharapkan (dari kantor itu). Artinya apa? Sayah tidak diterima. Hahaha, Allah memang Maha Adil.
Kembali menganggur… (hoaaaaam, sudah panjang… mana kisah cintanya yang katanya mengharu ungu ituu???)
-------
Masuk di bulan Februari. Nah, ni nih bulan yang bersejarah. Tepatnya tanggal 5 Februari pukul 22.00 (sepertinya lewat sedikit), sayah mengenalnya tanpa sengaja, dari suatu sumber yang tidak perlu disebutkan. Hari itu kami tukaran pin BB_hueeeeek_nomor telepon maksudnya. Ya, cuma tukaran nomor telepon kok. (Maaf tadi salah tulis dan sudah tidak bisa dihapus. Hehe).
Dan keesokan harinya (tgl 6 Februari 2011, Red), proses perkenalan pun dimulai. Awalnya saling sms-an, tukar-tukaran biodata dan segala hal yang masing-masing ingin kami ketahui. Dia juga banyak bertanya beberapa hal yang sifanya serius, seperti… ehm.. “Apakah sebelumnya sudah ada yang pernah ngelamar Ukhti??”
Hohohoh… sayah dipanggil “Ukhti”, sebutan yang sangat sayah sukai dan familiar ketika masih kuliah, tapi agak gimanaaaa gitu dengernya karena kali ini datangnya dari seorang Ikhwan. Seperti berada dalam novel2 islami yang sering sayah baca, ketika membaca bagian yang mengadegankan seorang ikhwan dengan kehati-hatiannya mendekati dan berbicara dengan akhwat yang menarik hatinya. Sayah seperti merasakan menjadi tokoh akhwatnya, rasanya Serr serrr Deg Dhuar Brrr…
Sebenarnya nggak nyangka kl dia benar-benar serius ingin mencari pendamping hidup, yang bisa jadi istri sholehah, mandiri, baik hati, penyayang, penuh perhatian, tidak sombong, wajahnya enak dipandang (Gue Bangetzzz, yakin deh!!!!) seperti yang dia sebutkan ketika pertama kali berkenalan. Nggak nyangka abissssss, habis-habisan saya tidak menyangka, hanya dalam satu hari itu (masih di tgl 6 Feb), dia menyatakan niatnya untuk memintaku jadi pendamping hidupnya. (yaaaaaaah, mungkin dia langsung sadar kl gue memenuhi point-point yang tertulis di atas.. hohohoho).
Kalo orang lain yang ditanya seperti itu oleh orang yang baru dikenalnya kurang dari 24 jam, apa yang akan mereka jawab???
“Kita kenalan aja dulu yah, jalanani saja dulu”, atau
“Biar mengalir apa adanya, jika jodoh tak akan kemana”, atau
“Gimana yah, kita kan baru kenalan, aku pikir2 dulu yah, seminggu dua minggu deh”….
Pasti agak merepet-repet ke situ kan jawabannya.
Kalo sayah, sempat berpikir juga sih, tapi cuma dalam hitungan menit. Beberapa kali sms, sayah menanyakan visi dan misi untuk kehidupannya dan kehidupan rumah tangganya nanti, sayah juga tanya alasannya “Nembak” saya secepat itu. Dan semua yang dia jawabkan kepada sayah bersama sebuah doa yang dia kirimkan “Ya, Allah.. Mantapkanlah Hatinya untukku” membuat sayah akhirnya memberikan jawaban…
“Bismillahirrahmanirrahim, iya saya mau”
Hmmnn, rasanya waktu itu enteng saja sayah menjawab. Tak ada beban dan tak ada keraguan. Sayah memang baruuu saja mengenalnya, tapi semua yang dia sampaikan dalam waktu yang singkat itu sangat mengena di hati dan hatiku berkata:
“Inilah orang yang telah ditakdirkan bagiku, yang telah dihubungkan denganku sejak laut purbakala oleh molekul dan atom dengan benang merah (alaah, apa-apaan ini?? Wkwkwk).
Sayah menginginkan sosok seperti dia, yang bisa jadi pembimbing saya, yang lebih dewasa (dalam hal sikapnya), yang bisa memukul sayah jika malas-malasan bangun untuk shalat subuh, pokoknya bisa jadi murabbi pribadi sayah deh. Usia sayah juga sudah memasuki usia untuk menikah, meski tidak pernah menargetkan untuk menikah ditahun ini juga sih.
Eh, Tapi pernah (bulan Januari 2011, Red) sayah sempat bercanda dengan teman-teman kuliah saat ngumpul2 bareng di Maros. Kami membicarakan soal rencana-rencana masa depan, dan saling mendorong untuk segera menikah, apalagi buat yang lebih tua di antara kami. Ketika giliran saya tiba, dengan entengnya saya menjawab, “Insya Allah, saya bulan enam”. Mungkin waktu itu karena saya mengucapkannya dengan hati dan sekelebat ada Malaikat pembagi rejeki yang lewat dan mencatat ucapan sayah itu, lalu menyampaikannya kepada Allah swt. (eh, Malaikat yang bagi rejeki juga bertugass bagi2 jodoh yah???).
Ketika jalan menuju itu sudah telihat, kenapa sayah tidak melangkah kesana. Dia, dia memilihku dan sayah juga akan memilihnya. (KALI INI sudah saling memilih satu sama lain, insya Allah nanti akan saling mencinta satu sama lain)
Bukankah Rasulullah Saw mengajarkan kita cara terbaik untuk memilih laki-laki/wanita untuk pendamping hidup??. Wanita dinikahi karena empat hal, karena kecantikannya, kekayaannya, keturunannya dan karena agamanya, maka nikahilah yang baik agamanya agar kamu bahagia (betul nggak sih begini kata-katanya???. yaaah, kurang lebih seperti itu, mohon diperbaiki sendiri yaah). Hanya ini yang jadi pertimbangan sayah untuk berkata “Iya”, karena lelaki ini baik Agama nya. Itu saja. Titik.
Dan dia juga pasti sangat beruntung kalo mendapatkan istri seperti sayah.. (Promosi aah) sayah kan memang bisa jadi istri sholehah, mandiri, baik hati, penyayang, penuh perhatian, tidak sombong, wajahnya enak dipandang. Puokoknya, mantep deh. Maknyusss.. (Tapi kok ada yah, lelaki yang menyia-nyiakan dirikuh dulu…. Husss, Astagfirullaah)
Februari pun berlalu dengan kenangan dan harapan-harapan baru didalamnya. Hari-hariku yang meski tidak diisi dengan kegiatan menarik, hatiku tetap bersemangat. Dia yang mulai saat itu mulai rutin menghubungiku. Komunikasinya hanya lewat telepon, ketemunya hanya satu kali di bulan Februari itu, sampai dengan hari pernikahan tiba, kl di hitung-2 pertemuan kami hanya 4 kali, itupun kalo ada hal yang penting. Seperti mau ngasih kado saat sayah ulang tahun (27 Mei, Red…Ikh, ini hal penting yah?? Dipenting-pentingin aja deh).
Tapi, setiap kali ketemu dia, melihatnya (oooh, ini dia calon suamiku), menambah keinginan sayah untuk segera dipinangnya (Ganjen, akh). Mungkin dia juga berpikiran sama dan dia merasa mungkin ada aura-aura syaitan yang menyelip dalam keinginan itu, makanya dia bilang,
“sebaiknya, pertemuan kita jangan terlalu intens.. tidak baik, Dinda (sudah mulai dipanggil Dinda, ciiiiiin), Insya Allah akan lebih baik jika kita menjaga diri sampai hari pernikahan tiba” Oowwww… Makin aku cintaaaaa, cermin sikapmu yang mampu meredam rasaaaaa…
Oia, lupa… Hal yang paling mendebarkan adalah saat sayah harus memberitahu orang tua soal rencana kami ini. Sulit sekali mencari saat yang paling tepat hanya untuk bilang “Ma, Pa.. Aku mau menikah”.
Sama Mama (ammakku), sayah bilang saat lagi mencuci bareng (so sweet..) beliau kaget. Ekpresinya seperti senang yang tertahan oleh rasa heran. Anaknya ini mau menikah dengan siapa? Selama ini sayah tidak pernah membawa seorang lelaki dengan hubungan spesial ke rumah. Pertanyaan pun bertubi-tubi dari sang Bunda diselingi bunyi sikat cucian, sreeet sreet, bugh bagh.. Cucian selesai, hati pun lega telah menyampaikan niat di hati.
Sama Bapak, saat nonton bareng (keluargaku harmonis kan, apa-apa dilakukan bareng.. hehehe). Sayah tidak tahu mau pakai kata-kata apa untuk memulai, beliau serius sekali nontonnya, ntar malah jantungan mendengar kata-kataku. Lagian, lidahku seperti mengecil, tidak bisa bergerak. Ahha… aku dapat ide.. TRiiing. Sayah lalu ngambil HaPe, ngetik beberapa kata2 ajaib dan memperlihatkan ke muka Bapak, biar dia baca saja kata-kataku, sungguh lidahku tidak bisa digunakan saat itu.
“Pak, saya mau menikah, sudah ada yang mau melamar, Boleh kaaaan?” begitulah isi sms yang aku perlihatkan padanya. Wkwkwkwkwk….Edan. Bapak diam, dan sayah tidak peduli, itu pasti artinya boleh. Yess yess yesss. Alhamdulillah, misi completed.
Wakil dari keluarga Kanda pun datang ke rumah. Lalu semua proses berjalan dalam waktu 4 bulan (Februari s/d Mei 2011). Perkenalan, Lamaran, Pa’nassa’, Panaik Doe’ (Adat Makassar). Sebulan kemudian baru deh akad nikah, saat Akad nikah ini baru kemudian kedua orang tua saya pertama kali melihat calon menantu yang beberapa jam lagi jadi menantunya. Begitu jua Kanda, saat itu dia baru pertama kali melihat calon mertua yang beberapa jam lagi jadi mertuanya dan baru pertama kali menginjakkan kakinya di rumahku. Lalu acara resepsi yang melelahkan, lalu, lalu, lalu malam pertamaaaaa.. Malam pertama yang akan selalu dikenang, kegiatan yang paling dinanti-nantinya, Nonton Bola Bareng… wkwkwkwk, Bohong deh. (19 Juni 2011, dan sayah benar-benar telah menikah di bulan Juni, sungguh kekuatan kata-kata yang keluar dari hati itu luar biasa).
Subhanallah… Maha suci Allah yang telah mempertemukan sayah dengan suamiku ini dengan cara yang tidak terduga-duga. Semoga Pernikahan kami penuh berkah, dan bisa membawa kami selamat dunia akhirat. Aaamiiin.
Saat saya menulis catatan ini, sudah sebulan kami hidup bersama.Senang, suka, susah dan duka, kami janji lalui bareng-bareng. Semuanya tidak serba mulus sih, pasti ada hal-hal kecil yang menjadi bahan perdebatan, tapi berdebat dengan Abi sangat menyenangkan. Kalo sayah yang memenangkan perdebatan, bangga rasanya dan sayah akan tersenyum senang untuk hadiah kekalahannya. Dan Kalo Abi yang menang, saya menghibur diri dengan mengatakan “lumayan, buat nambah-nambah ilmu” lalu tersenyum lagi sebagai hadiah kemenangannya. Sungguh benar pepatah “Kalah jadi abu menang jadi arang”, Abi berdebat dengan sayah, kalah menang tetap saja dapat senyuman hahaha.
Ada hal-hal yang tidak aku sukai darinya, mungkin dia juga menemukan hal-hal yang tidak dia sukai ada padaku. Tapi, kami masing-masing tahu, kehidupan rumah tangga memang seperti itu, jadi hal-hal yang tidak mulus itu tidak perlu terlalu dijadikan masalah. Cukup menikmatinya sebagai bumbu penyedap… hmmn.. penyedap apa yah… What ever lah, pokoknya kami bahagia deh, sudah bisa pacaran tanpa batas, saatnya menikmati masa-masa pacaran kami dulu. Doakan yaaaah!!!!
Akhir kata… (yesss, sudah mau habis). Saya Cuma mau bilang buat abiku, ANWAR Bin HJ. NUHUNG, “ANA UHIBBUKA FILLAH”
XXX
Comments
Post a Comment
Jangan keluar.....
sebelum meninggalkan Comment Ya......