Skip to main content

Dear.....Kamu,


Hmmn...
Apa yang ada dipikiranmu, selalu saja kamu buat Vitri begini. Kamu pikir vitri bisa apa mengerti yang kamu pengen klo kamu nggak nyampeinnya dengan bahasa yang vitri ngerti. 

Jangan pake bahasa isyarat kayak gini. Vitri nggak ngerti. Yang bisa vitri ngerti adalah setiap kata yang diucapkan dengan bahasa yang jelas yang disampaikan teman-teman vitri bahwa kamu begini begitu.
Lalu kamu bilang "Itu yang kita dengar dari temanta, nggak tahuki yang sebenarnya"
Emang.


Vitri nggak tahu yang sebenarnya. Trus maksudnya vitri harus percaya pada apa yang nggak vitri ketahui??? Nggak mungkinlah.

Yang bisa vitri percaya adalah kata-kata yang jelas dari teman-teman, sedangkan dari kamu sendiri, apa???

Kamu mungkin orang paling pengecut yang aku kenal jika memang kata teman-temanku itu salah, pecundang sejati.

Janganmi cari Vitri lagi, janganmi tanyakan vitri lagi pada siapapun yang mengenal vitri. Karena vitri bakalan dilema lagi, mencari tahu, memikirkan apa yang sebenarnya lalu memulai dari awal lagi untuk meyakinkan diri bahwa kamu cuma nyari untuk ngetawain vitri.

Susah tauuuuu.
Susaaah banget menyakinkan diri sendiri soal itu. Butuh pemikiran yang lebih panjang dan lebih luas serta lebih lama dibandingkan saat Vitri harus membuat laporan keuangan. Huft.

Kalo kamu mau mencari seseorang yang sudah ditanyakan oleh orang tuamu itu, jangan cari vitri. Jangan, jangan sekali-kali bahas itu di depan orang yang mengenal vitri dan kamu. karena orang itu akan memberitahu vitri, dan seperti bait di atas, vitri akan kembali ketitik 0 pemikiran tentangmu. Huft lagi.

Kamu kan sudah menghancurkan harapan dan mimpi2 vitri kala itu. Jangan mulai lagi membangun harapan vitri tentangmu melalui isu-isu yang dibawa angin, melaui suara-suara orang. Itu membuat vitri betul-betul seperti kembali bertemu denganmu pertama kali, saat kamu masih bagai malaikat buat vitri. Malaikat yang entah apa tugasnya, tapi disalahgunakan untuk menyakiti vitri dan menghapus mimpi-mimpi vitri.

Sekarang, vitri sedang berusaha merancang mimpi lagi. Harapan dan mimpi yang indah tentunya bersama orang-orang yang betul-betul sayang dan peduli sama vitri. Vitri baru saja kemarin terjatuh lagi, hari ini vitri berusaha bangkit meski tidak ada uluran tangan itu.

Jadi, Pliiiiiis... Vitri mohon, biarkan vitri berdiri dulu. biarkan melangkah ke jalan yang mulus itu, ke arah yang dipenuhi dengan cahaya berkilau itu. Tanpa pikiran tentang kamu lagi. Pikiran tentang isyarat yang kamu berikan yang tidak pernah vitri ketahui kemana ujungnya. Vitri nggak mau berfikir, menerka-nerka atau berprasangka lagi.

Klo kamu berani, bukan pecundang seperti yang vitri prasangkakan, yakinkan vitri akan hal itu. Yakinkan dengan bahasa universal, bahasa ucapan, bahasa Inggris, bahasa daerah atau bahasa Indonesia. Vitri pasti ngerti kalo pake bahasa ini.


(Saat dia bilang kamu mencari Vitri)

Comments

  1. Duuuuuh, Pangeranku yang sesungguhnya...kamu dimana sih.
    Kemana saja kamu?
    mr bla

    ReplyDelete

Post a Comment

Jangan keluar.....
sebelum meninggalkan Comment Ya......

Popular posts from this blog

FAIRY

Pengen deh jadi angel, Peri, bidadari atau apalah namanya... mereka tampak cantik sekali... Atau seperti putri2 dalam cerita dongeng. 

Bendahara Harus Mahir Pajak (Part 2)

Ehhem.... Singkirkan segala macam tumpukan kertas dari hadapanku... aku mau ngetik, ngisi blog .... mumpung lagi ada inspirasi dan kesempatan.......masa' iya tahun 2017 sudah di Septembernya tapi blogku masih kosonng. HAI HAI HAIIII... jumpa lagi dengan tulisan tak penting dari akuuuu... Assalamu alaikuuuum... Apa kabar? Udah pada nunggu lanjutan "Bendahara Harus Mahir Pajak"" Yaaaaa????  Apa?  ENGGAk??  HIKSss.. BUBAAArrrr... ..............

BENDAHARA HARUS MAHIR PAJAK (PART I)

Assalamualaikum.... Akhir-akhir ini jadi rempong sendiri melayani para bendahara pengeluaran pembantu alias bendahara di puskesmas yang sering bertanya soal pajak. Gimana cara ngitungnya, berapa tarifnya, apa jenis pajaknya, gimana SSP nya?? macam-macam lah pertanyaannya. Jadi bosan ditanya terus, bahkan sudah berulangkali dijelaskan juga masih bertanya lagi.... Saya sih maklum dan coba sabar ajah, mengingat latar belakang pendidikan mereka rata-rata dari ilmu kesehatan. Nah Loh, kok jadi bendahara?? yaa.. mau gimana lagi, kalo tenaga yang disediakan cuma itu. Seharusnya kan pekerjaan seperti itu ditangani oleh ahlinya juga, tapi APBD maupun APBN belum mampu untuk pengadaan pegawai lagi. Ah, kok malah bahas pengadaan pegawai. Back to topik....