Sudah dua hari kedua pria itu datang ke kos-anku. Bukan, bukan untuk menemui aku, tapi seorang temanku yang namanya tak ingin disebutkan. Baiklah kita sebut saja nama temanku itu Mel. Mel anak baru di kantor aku, tapi penggemarnya sudah banyak. Itu yang terang-terangan, kagak tahu dah yang gelap-gelapan (Secret Admire, gitu klo bahasanya si bule’).
Hari pertama mereka datang untuk menjenguk Mel, hari itu Mel sakit sehingga nggak masuk kantor. Malamnya aku menemani Mel untuk menemui kedua pria itu di halte depan kos-an.
“Mel, aku sudah ada di halte nih, kamu ke sini yaah! Ada sesuatu yang ingin kuberikan” isi sms dari pria yang tertarik sama temanku itu.
“Ya udah, sini aku temenin” Aku menawarkan diri ke Mel (Baraaaang kali ditawarkan).
“Yuk, Mba Fit”
“Tapi kita keluarnya lewat pintu samping aja. Jangan sampe mereka melihat kita keluar dari rumah ini, ntar ketahuan kos-an kita yang mana”
“Emang kenapa mba?”
“Loe nggak mau kan, dia datang kesini tiap malam?”
“O, iya yah” Mel polos.
Aku dan Mel lalu mengendap-endap keluar. Tampak kedua pria itu duduk di halte yang berada tepat depan kos-an kami yang hanya dibatasi pagar besi berwarna ijo (Warnanya juga nggak kentara Fit, kan udah malam). Dan kami tepat dibelakang, mengendap-endap (tapi bukan maling) agar mereka tidak menyadari kami ada di belakang pagar itu.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka membelokkan badan ke belakang.
Jiaaaaaaaaaaaaaaaaah.
Ketahuan.
Phuffff.
Punya jin kali tuh orang. Kok bisa-bisanya nengok di waktu yang nggak tepat kayak gitu sech.
Keinginan tulus nan suci agar mereka tidak mengetahui tempat tinggal kami gagal sudah. Siap-siaplah menghadapi malam berikutnya dengan mereka.
“Mba sih, jalannya kayak tentara gitu” Keluh Mel menyalahkanku. Padahal dia sendiri yang memimpin barisan tentara ini.
“Ya sudahlah, jalan sana mereka sudah liat kita ini, percuma ngedumel” bantahku biar nggak jadi salah-salah amat.
Maka dimulailah malam yang diisi dengan percakapan-percakapan membosankan dan membuat banyak salah tingkah di halte bus.
“Oia, Kenalin, nih mba Fitri” Mel lupa memperkenalkan pengawalnya ini kepada tamu-tamu dari kaum adam itu.
“Oh, iya.... aku Alank dan ini Fadli (Nama ini juga disamarkan demi kehormatan mereka)” sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Fitri” kataku sembari mengatupkan kedua tangan di depan dada, tidak menyambut uluran tangan Alank. Sok-sok alim gitu deh, nggak bersalaman dengan kaum laki, padahal cuma takut ketahuan gemetarannya. Hehehehe.....
“Fitri anak swatama juga?” Alank mulai nanya-nanya
“Kok aku nggak pernah liat?”
“Asli mana?”
“Usianya berapa sekarang”
“ooooo, masih muda” katanya ketika aku bilang masih 23 tahun, eh.. 22 apa 23 yah???
Dan seterusnya, dan seterusnya .
Mel dan Fadli ngobrol berdua, si Alank (klo disambung jadinya ”Sialank”) agak menjauh dari kami dan memberi tanda agar aku juga menjauh. Tapi aku nggak ngerti bahasa isyarat yang dia berikan. Cuek aja. Mel juga mengapit tanganku erat-erat biar nggak bisa jauh-jauh.
Jadi ingat bahwa jika dua orang yang berlainan jenis sedang berduaan maka yang ketiganya adalah syaitan. Eits, enak aja. Aku bukan Syaitannya, aku angel yang bertugas mengawasi mereka (dilarang protes...!!). Iya donk, mana ada syaitan berjilbab, manis lagi. Hohoho.
“Eh, ada bungkusan tuh” kataku memecah kekakuan mereka.
“Oh, iya. Ini buat loe Mel, kan lagi sakit jadi gue kasih buah ini biar cepat sembuh”
Ceila.... jadi pengen sakit juga. Tapi.... siapa yang bakal ngejengukku. Hiks. “ Enggak akh, Nauzubillah” bantahku segera dalam hati.
Percakapan berlanjut.
Sampai akhirnya aku tiba pada titik maksimum kebosananku.
“Balik yuk Mel, tuh jemputan kita sudah datang” sambil menunjuk mobil sedan hitam yang beru saja berhenti di depan kami.
“Ya, udah. Mel, kamu masuk aja. Entar loe tambah sakit” Kata Fadli memberikan angin segar.
“Yuk mba Fit” tambah segar lagi mendengarnya.
Kami lalu berdiri dan segera beranjak dari tempat itu dan segera menghilang lagi dibalik pagar ijo (sudah dibilang nggak usah nyebutin warnanya....!@#). Tanpa mengucapkan terima kasih atas pemberian Fadli.
“Yaaaah, Mel. Loe sudah bilang terima kasih belum atas buah-buahan ini”
“Belum mba” Polos lagi
Whatever deh.
*Cerita ini sudah mendapat persetujuan dari yang bersangkutan.
Nantikan Part.II-nya yaaaaa.
^_^
Hari pertama mereka datang untuk menjenguk Mel, hari itu Mel sakit sehingga nggak masuk kantor. Malamnya aku menemani Mel untuk menemui kedua pria itu di halte depan kos-an.
“Mel, aku sudah ada di halte nih, kamu ke sini yaah! Ada sesuatu yang ingin kuberikan” isi sms dari pria yang tertarik sama temanku itu.
“Ya udah, sini aku temenin” Aku menawarkan diri ke Mel (Baraaaang kali ditawarkan).
“Yuk, Mba Fit”
“Tapi kita keluarnya lewat pintu samping aja. Jangan sampe mereka melihat kita keluar dari rumah ini, ntar ketahuan kos-an kita yang mana”
“Emang kenapa mba?”
“Loe nggak mau kan, dia datang kesini tiap malam?”
“O, iya yah” Mel polos.
Aku dan Mel lalu mengendap-endap keluar. Tampak kedua pria itu duduk di halte yang berada tepat depan kos-an kami yang hanya dibatasi pagar besi berwarna ijo (Warnanya juga nggak kentara Fit, kan udah malam). Dan kami tepat dibelakang, mengendap-endap (tapi bukan maling) agar mereka tidak menyadari kami ada di belakang pagar itu.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka membelokkan badan ke belakang.
Jiaaaaaaaaaaaaaaaaah.
Ketahuan.
Phuffff.
Punya jin kali tuh orang. Kok bisa-bisanya nengok di waktu yang nggak tepat kayak gitu sech.
Keinginan tulus nan suci agar mereka tidak mengetahui tempat tinggal kami gagal sudah. Siap-siaplah menghadapi malam berikutnya dengan mereka.
“Mba sih, jalannya kayak tentara gitu” Keluh Mel menyalahkanku. Padahal dia sendiri yang memimpin barisan tentara ini.
“Ya sudahlah, jalan sana mereka sudah liat kita ini, percuma ngedumel” bantahku biar nggak jadi salah-salah amat.
Maka dimulailah malam yang diisi dengan percakapan-percakapan membosankan dan membuat banyak salah tingkah di halte bus.
“Oia, Kenalin, nih mba Fitri” Mel lupa memperkenalkan pengawalnya ini kepada tamu-tamu dari kaum adam itu.
“Oh, iya.... aku Alank dan ini Fadli (Nama ini juga disamarkan demi kehormatan mereka)” sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Fitri” kataku sembari mengatupkan kedua tangan di depan dada, tidak menyambut uluran tangan Alank. Sok-sok alim gitu deh, nggak bersalaman dengan kaum laki, padahal cuma takut ketahuan gemetarannya. Hehehehe.....
“Fitri anak swatama juga?” Alank mulai nanya-nanya
“Kok aku nggak pernah liat?”
“Asli mana?”
“Usianya berapa sekarang”
“ooooo, masih muda” katanya ketika aku bilang masih 23 tahun, eh.. 22 apa 23 yah???
Dan seterusnya, dan seterusnya .
Mel dan Fadli ngobrol berdua, si Alank (klo disambung jadinya ”Sialank”) agak menjauh dari kami dan memberi tanda agar aku juga menjauh. Tapi aku nggak ngerti bahasa isyarat yang dia berikan. Cuek aja. Mel juga mengapit tanganku erat-erat biar nggak bisa jauh-jauh.
Jadi ingat bahwa jika dua orang yang berlainan jenis sedang berduaan maka yang ketiganya adalah syaitan. Eits, enak aja. Aku bukan Syaitannya, aku angel yang bertugas mengawasi mereka (dilarang protes...!!). Iya donk, mana ada syaitan berjilbab, manis lagi. Hohoho.
“Eh, ada bungkusan tuh” kataku memecah kekakuan mereka.
“Oh, iya. Ini buat loe Mel, kan lagi sakit jadi gue kasih buah ini biar cepat sembuh”
Ceila.... jadi pengen sakit juga. Tapi.... siapa yang bakal ngejengukku. Hiks. “ Enggak akh, Nauzubillah” bantahku segera dalam hati.
Percakapan berlanjut.
Sampai akhirnya aku tiba pada titik maksimum kebosananku.
“Balik yuk Mel, tuh jemputan kita sudah datang” sambil menunjuk mobil sedan hitam yang beru saja berhenti di depan kami.
“Ya, udah. Mel, kamu masuk aja. Entar loe tambah sakit” Kata Fadli memberikan angin segar.
“Yuk mba Fit” tambah segar lagi mendengarnya.
Kami lalu berdiri dan segera beranjak dari tempat itu dan segera menghilang lagi dibalik pagar ijo (sudah dibilang nggak usah nyebutin warnanya....!@#). Tanpa mengucapkan terima kasih atas pemberian Fadli.
“Yaaaah, Mel. Loe sudah bilang terima kasih belum atas buah-buahan ini”
“Belum mba” Polos lagi
Whatever deh.
*Cerita ini sudah mendapat persetujuan dari yang bersangkutan.
Nantikan Part.II-nya yaaaaa.
^_^
waaahhhh....seru...seru tawwa!!!
ReplyDeleteberbakat ko di'????
nulis-nulis, saya serasa baca cerpen dari pengarang terkenal....
ada juga di selipkan yg lucu2 jadi gak bosan, bacanya sambil ketawa2 sendiri, untung gak ada org lain. jadi gak keliatan kayak org gila (ketawa sendiri. di bagian mana lanjutannya???
Part II ada tuh di Bulan Desember....
ReplyDeleteTekyuuu.... Kak Ilyas yah???
Eh, Bulan November....
ReplyDelete