
“AKU JUGA PUNYA TANGGUNG JAWAB”, dengan nada marah Vani mengucapkan kata-kata itu ketika keluar dari ruangan supervisornya.
Entah apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Mungkin terjadi perdebatan antara Vina dengan pak Firman. Kira-kira sekitar 20 menit Vani di ruangan itu. Dan sangat mengagetkan kami, Aku dan Dina ketika dia keluar dengan nada marah seperti tadi lalu tiba-tiba wajahnya sedih dan menagis.
Suasana sore itu berubah menjadi sedikit tegang, padahal beberapa menit yang lalu kami masih tertawa bersama. Aku, Dina, Yuni dan Vani. Mungkin karena kami terlalu banyak tertawa lalu kemudian kami harus bersedih sekarang.
Aku dan Dina masih belum tahu apa yang terjadi ketika mendekati Vani.
“
Vani diam. Masih merebahkan wajah di meja kerjanya dan terdengar isak tangis yang ditahan tapi kami mendengarnya dengan jelas.
“Apa yang terjadi Van?”
Dia masih diam.
“Ayolah Van, kami nggak tahu harus berbuat apa karena kami nggak mengerti masalahmu”.
“Dia atasan yang egois. Nggak pernah mengerti. Aku sakiiit hati diperlakukan seperti ini terus” Akhirnya Vani bicara.
“Dia memperlakukanmu bagaimana? Bukankah selama ini semuanya baik-baik saja?”, Tanya Dina dengan sangat ingin tahu.
>>> to be continued..........
yeee....bikin penasaran saja ceritanya!!!
ReplyDeleteUntuk cerita ini kayaknya kagak bakalan selesai deh... aku lupa gimana lanjutannya...
ReplyDeletehihihi...
waktu itu aku nulisnya tiba-2 aja waktu ngeliat temen kantor aku dimarahin atasannya..