Arya mengambil anak kunci di saku celananya. Setelah itu memasukkannya ke lubang kunci di daun pintu. Ditekannya handel pintu itu. Lantas ia mendorong daun pintu rumah kost kami. Dan pintu itu terbuka lebar. Kami pun bergerombol masuk ke dalam ruangan yang hanya terdapat satu sofa, satu meja dan pesawat televisi itu. Ucok langsug menghidupkan layar kaca 21 inch. Sedang aku pergi ke dapur. Membuat tiga cangkir kopi hitam untuk kami bertiga. Dan setelah jadi benda kesukaan kami itu aku bawa ke ruang tamu. Di sana Ucok dan Arya telah asyik memelototi layar kaca itu. “Gue yakin Inggris akan menang. Kejayaan Brasil telah lewat,” Ucok berkomentar tentang pertandingan sepakbola yang akan kami tonton. “Betul, Brasil tidak ada apa-apanya lagi. Sekarang giliran Inggris,” tambahku menguatkan pertandingan perempat final Piala Dunia 2002 yang diadakan di Shuzuka Jepang itu. “Belum tentu. Lihat aja, sejak babak penyisihan Brasil sudah bagus. Semua dilibasnya,” Arya tidak mau kalah. Dan kami berseman...
Selamat Datang Di Pemikiran Vitri_Jalee