Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2009

MEL's ADMIRE *

Sudah dua hari kedua pria itu datang ke kos-anku. Bukan, bukan untuk menemui aku, tapi seorang temanku yang namanya tak ingin disebutkan. Baiklah kita sebut saja nama temanku itu Mel. Mel anak baru di kantor aku, tapi penggemarnya sudah banyak. Itu yang terang-terangan, kagak tahu dah yang gelap-gelapan (Secret Admire, gitu klo bahasanya si bule’). Hari pertama mereka datang untuk menjenguk Mel, hari itu Mel sakit sehingga nggak masuk kantor. Malamnya aku menemani Mel untuk menemui kedua pria itu di halte depan kos-an.

KONFLIK

“AKU JUGA PUNYA TANGGUNG JAWAB”, dengan nada marah Vani mengucapkan kata-kata itu ketika keluar dari ruangan supervisornya. Entah apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Mungkin terjadi perdebatan antara Vina dengan pak Firman. Kira-kira sekitar 20 menit Vani di ruangan itu. Dan sangat mengagetkan kami, Aku dan Dina ketika dia keluar dengan nada marah seperti tadi lalu tiba-tiba wajahnya sedih dan menagis. Suasana sore itu berubah menjadi sedikit tegang, padahal beberapa menit yang lalu kami masih tertawa bersama. Aku, Dina, Yuni dan Vani. Mungkin karena kami terlalu banyak tertawa lalu kemudian kami harus bersedih sekarang. Aku dan Dina masih belum tahu apa yang terjadi ketika mendekati Vani. “ Ada apa Van?, Kenapa kau menagis?” Vani diam. Masih merebahkan wajah di meja kerjanya dan terdengar isak tangis yang ditahan tapi kami mendengarnya dengan jelas. “Apa yang terjadi Van?” Dia masih diam. “Ayolah Van, kami nggak tahu harus berbuat apa karena kami nggak mengerti...

So Touching

Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid. Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat. Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan. Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah. “Coba engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”, nasihat mereka. Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi. Sambil tersenyum beliau berkata: “Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?” “Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingg...